RSS

Monthly Archives: February 2010

Habis Gelap Terbitlah Terang

Tiba-tiba semuanya menjadi hitam, kelam
Sinar itupun langsung meredup, bahkan hilang
Suara-suara tak mengenakan membayangi
Untuk beberapa detik kebahagianku mulai terusik

Ntah apa yang terjadi
Semua terjadi dalam sekejap
hitungan detik
langsung hilang, gelap

Dan muncul kembali dalam bentuk berbeda
Sangat berbeda
Karena bukan sinar terang
Melainkan cahaya kegelapan sangat

Ketakutan mulai merasuki jiwaku
Akankah selamanya gelap
ataukah akan mucul sinar terang kembali
Semoga Habis gelap terbit kembali terangnya

Berlin,
12.28 24.02.2010

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 February 2010 in Uncategorized

 

Kembali PadaNya

Sudah beberapa hari ini rasanya kepala pening. Pening bukan karena sakit tentunya tapi pening harus bagaimana mensikapi keadaan yang semakin hari semakin tidak berkawan. Terkadang kondisi seseorang memang bertolak belakang dengan keinginan dirinya sendiri. Rencana yang telah disusun matang berbulan-bulan akan berubah dalam sekejap karena alasan yang kadang diluar kendali pemikiran kita.

Ketika kita menghadapi yang demikian, tentu saja kita tidak akan dapat menghindarinya atau bahkan menolaknya. Ketentuan Tuhan selalu baik untuk hambaNya meski menurut hamba tersebut hal itu tidak begitu mengasikkan untuknya. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Surah. Al Baqarah:216).

Lalu apakah yang sebaiknya kita lakukan jikalau kita menghadapi situasi dan kondisi yang sedemikian rupa. Mungkin jalan terbaik untuk mengatasi hal tersebut juga harus mengembalikannya kepada Tuhan seru sekalian alam ini yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Dengan mengembalikan segala persoalan yang membelit diri kita, tentu saja ketentraman hati akan kembali muncul sehingga kita akan dapat menikmati kehidupan yang indah ini dengan tanpa ada beban yang berarti. Seperti bait lagu Gigi:
serahkanlah hidup dan matimu
serahkan pada Allah semata
serahkan duka gembiramu
agar damai senantiasa hatimu

Ya, mari kita pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Tawakal dan ihktiar menjadi modal utama bagi kita untuk menempuh perjalanan hidup yang tidak dapat kita tebak ini dengan kesejukan hati. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Salam dari Berlin,
18.27 23.02.2010

 
Leave a comment

Posted by on 23 February 2010 in Uncategorized

 

Berbakti Kepada Orang Tua Kita

Kehidupan selalu berputar. Selalu berubah dari hari ke hari. Tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Sebagian orang berkata dunia itu kejam, namun sebagian yang lain sebaliknya, menikmati kehidupan yang telah dianugerahkan Allah SWT untuknya melakukan segala kebajikan di dunia ini. Kebersyukuran seseorang terhadap anugerah terbesar dari sang Pencipta harus selalu dilakukan mengingat dengan rasa syukur terhadap maka segala permasalahan yang dihadapinya akan selalu dapat diselesaikan dengan penuh kesabaran.

Begitupun dengan kehidupan yang kualami dan sedang kujalani saat ini. Aku sungguh bersyukur dapat menulis sebuah tulisan (ini) di depan sebuah laptop yang dulu hanya angan-angan kosong belaka untuk mempunyainya. Dengan rasa bersyukur, maka kugunakan pemanfaatannya dengan sebaik-baiknya untuk tujuan menambah pengetahuanku dengan berbrowsing ria di dunia maya, menjalin silaturahmi dengan rekan-rekan dan juga untuk bekerja demi kelangsungan hidupku untuk beribadah kepada sang Khaliq.

Namun sungguh manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah. Itulah fitrah sejatinya manusia, tapi apakah sebagai manusia kita akan mengikuti fitrah yang terkesan tidak bersemangat tersebut. Meskipun memang tidak ada salahnya bagi manusia untuk berkeluh kesah mengenai permasalahannya. Sungguh alangkah baiknya seandainya keluh kesah tersebut langsung disampaikan kepada sang Khaliq yang selalu akan mengijabahi permohonan hambaNya yang sedang mengadu kepadaNya. Dalam firmannya Allah SWT menyuruh umat manusia untuk menjadikan kesabaran dan sholat sebagai penolongnya (“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153))

Tulisan ini hanyalah sebuah instropeksi diriku yang selama ini kurang begitu memperhatikan permasalahan ubudiyah. Kesombongan akan diri sendiri akhirnya harus takluk juga oleh kekuatan doa. Sesungguhnya hanya dengan memohon kepada sang Pencipta lewat doa, dan usaha tentunya, maka segala permasalahn hidup kita dapat segera teratasi. Sudah banyak tentunya hal-hal yang kualami benar-benar terjadi berkat doa. Dan yang aku yakin pasti, doa kedua Ayah Ibuku juga menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupku ini. Masih ingat rasanya ketika akan menghadapi sesuatu, maka aku selalu membiasakan diri untuk melapor kepada dua orang kesayanganku, meski hanya lewat telepon. Mengabarkan bahwa aku besok atau lusa atau pekan depan akan melakukan ini dan itu, dan ketika aku memohon untuk didoakan, keduanya selalu mengatakan bahwa tanpa dimintapun keduanya selalu membayangi langkahku dengan doa. (Sedih banget ya.. akan sebisa mungkin untuk membahagiakan keduanya selagi masih ada waktu yang tersisa). Bahkan seandainya aku harus pergi dinas ke kota maupun pulau lain, bisa-bisa aku akan diomeli seandainya sebelum berangkat tidak memberikan kabar. Dan begitu sampai di kota tujuanpun suatu keharusan untuk berkirim kabar dan begitu juga ketika kembali ke kota asal. (Sungguh, sayang sekali keduanya terhadap kami bertiga).

Begitulah orang tua ya, cintanya sepanjang masa dan semoga cinta kita tidak sepanjang galah. Meski kita tidak mampu untuk membalas semua yang telah keduanya berikan kepada kita (dan tak akan pernah) tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi kita untuk terus mendoakannya yang agar menjadi amal jariyah bagi keduanya yang tak akan terputus. Mungkin itulah kebaikan terbesar yang harus kita berikan ketika keduanya sudah harus pergi meninggalkan dunia ini. Semoga kita bisa menjadi anak sholeh sebagai bekal untuk kedua orang tua kita nantinya.

Dalam Surat Al Ahqof ayat 15 Allah SWT berfirman: ” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Semoga dapat menjadikan kita untuk lebih bisa menempatkan diri dalam keluarga.

Salam dari berlin,
21.28 22.02.2010

 
Leave a comment

Posted by on 22 February 2010 in Uncategorized

 

Semua Telah Berubah

Ntahlah tiba-tiba saja semuanya menjadi seperti ini
Aku hanya terduduk di sofa tua itu
Tak terucap sau katapun dari bibirku
Aku masih terdiam, seribu basa

Yang kutahu adalah semua sudah berubah
Waktu telah begitu cepatnya bergerak
Hingga tak kusadari kalau semua telah berubah
Aku masih terdiam, seribu basa

Asaku kembali muncul
Namun semua sudah berubah
Apakah perubahan itu dapat kurubah?
Aku masih terdiam, seribu basa

Berlin with kopi susu,
09.09 23.02.2010

 
Leave a comment

Posted by on 22 February 2010 in Uncategorized

 

Kata Mutiaraku

Kesempurnaan muncul dari sebuah kesalahan. Kesalahan bagaikan bumbu dari suatu keberhasilan.

 
Leave a comment

Posted by on 19 February 2010 in Uncategorized

 

Kemerdekaanku Terenggut Kembali

Kutulis tulisan ini dalam keadaan duduk tegak di kantor. Setelah terlelap sekian lama dalam “kemerdekaan” akhirnya hari ini aku berangkat ke kantor juga. Tak terasa sejak tanggal 28 Jan 2010 yang lalu hingga tanggal 16 Feb 2010 kemaren, hari-hariku kuisi dengan kesibukan yang mengasikkan. Menulis beberapa tulisan yang cukup menyenangkan.

Namun setelah bosku datang lagi ke Berlin, semoga masih ada waktu yang dapat kusisihkan untuk hanya sekedar bercetak cetok ria di atas keyboard laptop putih mungil ini. Karena menulis sedikit dapat mengurangi beban di otakku, meski hanya tulisan yang menurutku tidak berguna sama sekali, tapi aku mengerti makna dari setiap tulisan yang kubuat sendiri.

Berlin,
15.06 17.02.2010

 
Leave a comment

Posted by on 17 February 2010 in Uncategorized

 

KEKALAHANKU

Hidupku sudah hampir menginjak waktu 27 tahun. Banyak hal yang telah terjadi silih beganti, baik dan buruk, menang dan kalah, semua selalu saja datang tanpa mengenal waktu. Kekalahan pertamaku terjadi waktu aku masih duduk di kelas TK kecil. Hanya kekalahan sebuah kekalahan kecil. Kekalahan dalam mengelola diri ini sehingga menjadi seorang yang tidak bisa menggerakkan badan untuk mengikuti irama musik ‘Bukan Kolam Susu’ yang menjadi theme song tarian waktu itu.

Aku hanya diam membisu. Tak bergerak sama sekali. Sesekali melihat sekeliling, memperhatikan teman-teman kecilku yang dengan indahnya bergerak kesana kemari dengan tawa renyahnya. Semua ini adalah latihan untuk sebuah penampilan gabungan yang bakal diadakan di alun-alun kota Kendal.

Lebih parahnya lagi, ketika puncak penampilan di alun-alun tersebut, aku tetap saja terdiam, membisu. Ditengah-tengah kegembiraan yang terjadi, diriku malah seakan-akan tersiksa. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, memberitahu kepada khalayak ramai yang sedang asik memandangi anak-anaknya bahwa aku gak mau ikutan seperti ini, aku malu untuk bergerak-gerak dan bergoyang seperti ini. Tapi ternyata aku hanya membisu.

Protesku hanya berhenti ditenggorokan, tak sampai keluar menjadi suara lantang seperti waktu ikut orasi menjadi calon presiden BEM fakultasku. Dan tidak ada yang menggubris kediamanku, semua asik khusuk melihat anak-anaknya masing-masing, sementara aku berada ditengah-tengah lapangan. Matahari juga tidak secara otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak menghilang dan menjadi awan mendung yang kemudian turun hujan lebat sehingga acara itu pasti akan dibubarkan. Ketika itu benar-benar terjadi pasti aku sangat gembira, riang tak terkira. Dan penduduk duniapun akan kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? “Ooo ini ada anak TK yang tinggal di sebuah kampung di Pinggiran Kota Kendal sana, namanya Kamal Aziz sedang murung karena malu untuk ikut bergerak bersama teman-temannya di alun-alun sana.”

Sungguh betapa gembiranya aku jika hal itu terjadi. Tapi nyatanya tidak. Matahari tetap saja menyinari alun-alun itu dengan teriknya. Pedagang es pun tetep berteriak ‘es cendol es cendol’ dengan gagahnya. Begitu juga dengan hansip-hansip yang berjaga juga tetap berdiri dengan tegapnya seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di tengah alun-alun sana. Jangankan menaruh iba kepada seorang Kamal, andainya acara di alun-alun itu ditiadakan, apa peduli mereka.

Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.

Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.

Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.

Salam dari Berlin,
12.25 14.02.2010

 
Leave a comment

Posted by on 14 February 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , ,