RSS

Monthly Archives: March 2010

Dua Puluh Tujuh

Kehidupan manusia tak pernah lepas oleh hitungan sang waktu. Terkadang ketika kehidupan ini sedikit bersahabat, tanpa merasa terbebani waktu begitu cepat berlalu, dan sebaliknya, ketika kita merasa kepayahan dalam menjalani hidup ini terkadang waktupun terasa melambat bagaikan siput. Namun pada dasarnya waktu berjalan sedemikian adanya, detik, menit, jam hingga tahunan dan abad dan itu sama hitungannya untuk tiap-tiap orang yang menjalaninya, hanya rasanya yang terkadang berbeda.

Pada jam 5 pagi ditanggal 23 Maret 1983, aku menangis dalam lumuran darah dari rahim ibuku tercinta, aku dilahirkan tepat pada tanggal itu di sebuah dusun yang cukup terpencil dari hiruk pikuk kota, rumah nenekku, bahkan listrik baru masuk ke dusun itu sekitar pertengahan tahun 90-an. Ketenangan pagi itu terusik oleh tangisanku, namun orang-orang disekitarku malah merasa bahagia karena telah lahir dengan selamat putra ke 3 dari Ayahanda dan Ibundaku tercinta.

Apa yang sebelum dan sesudahnya terjadi ketika proses kelahiranku akan dimulai terekam dalam sebuah buku biru yang ditulis Ayahandaku, sayangnya buku itu berada di rumah, sehingga aku tidak bisa membaca dan sedikit membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di rumah nenekku tersebut. Penggambaran yang Ayahku berikan dalam buku itu sebenarnya cukup banyak memberikan ilustrasi bagaimana sibuknya Ayahku harus mencari bidan dimalam itu dengan kondisi alam yang sangat terbatas dari pencahayaan.

Saat ini, 3 hari yang lalu, 23 Marert 2010, umurku telah bertambah dan jatah hidupku pun telah berkurang. Perjalanan panjang telah kulalui dengan berbagai pengalaman yang indah, berbagai tantangan kehidupan, yang sedikit demi sedikit mengajarkan kepadaku makna perjalanan ini. Tentunya setiap perjalanan pasti ada tantangannya, ntah tantangan yang dapat kita selesaikan ataukah tantangan yang berakhir dalam kekurangsuksesan yang pada akhirnya akan membuat kita untuk berfikir ulang mengenai kekurangan tersebut.

Telah banyak nama-nama yang termemory dalam benakku, nama-nama yang membantuku untuk menjadi sedemikian rupa. Pertemuan dan perpisahan dengan orang-orang yang pernah kutemui memberikan sensasi dan pembelajaran yang cukup indah. Mereka banyak membantu diriku dalam mengatasi segala tantangan yang ada, memberikan pencerahan, berbagi pengalaman mereka yang beberapa diantara telah banyak makan asam garam kehidupan. Tak kuasa rasanya untuk berucap terima kasih kepada mereka satu persatu. Namun mungkin lewat tulisan ini aku ingin sekali mengucapkan rasa terima kasihku kepada rekan-rekan yang telah memberikan secuil pengalaman hidupnya kepadaku.

Seiring bertambahnya umur di 27 ini, sepertinya dosaku sudah seperti butiran pasir di laut, tak dapat kuhitung bahkan mungkin bisa jadi akan terus bertambah. Rasa-rasanya belum banyak ibadah dan perbuatan baik yang telah kulakukan, sepertinya diriku begiku terlena oleh kehidupan dunia ini yang sebenarnya hanya seperti ini saja. Kehidupan semu yang pada akhirnya akan berujung disebuah lubang 2×1 meter dalam keheningan yang sangat. Hanya dalam selimut kain kafan putih yang harganya tidak seberapa dan bahkan orangpun akan memberikan cuma-cuma seandainya aku tidak punya sisa harta yang kutinggalkan untuk membelinya.

Aku hanya manusia biasa, bagian dari kehidupan dalam putaran bumi ini. Satu dari sekian miliar nyawa manusia yang ada dipermukaan bumi ini, dan satu dari triliyunan makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah SWT. Rasa sesal selalu datang dikemudian. Maka dari itu, janganlah penyesalan itu muncul dan muncul lagi kemudian hari. Antisipasi agar tidak akan ada penyesalan sangat mungkin untuk kita lakukan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang lebih baik. Dan mari kita jadikan diri kita menjadi lebih bermakna dalam mengarungi kehidupan dunia ini untuk menyongsong kehidupan yang lebih kekal abadi.

Berlin,
21.29 26032010

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 25 March 2010 in Uncategorized

 

Satu Tahun Sudah

Setahun sudah berlalu, ketika aku mendarat di Berlin, Ibu Kota Jerman pada tanggal 21 Maret 2009 sekitar jam 13.30. Perasaan senang dan sedih terus menyelimuti diriku. Antara kebahagiaan bisa menginjakkan kaki di benua Eropa dan rasa jauh dari keluarga menyiksa.

Satu tahun ternyata cukup pendek. Padahal dulu sebelum berangkat aku berpikiran akan merasa sangat lama dan pasti akan menyiksaku. Namun waktu setahun ini telah banyak merubah hidupku. Berpisah dengan teman-teman lama dan bertemu dengan teman-teman baru dilingkungan yang sangat baru.

Telah banyak pengalaman-pengalaman baru dan mengesankan yang telah kualami. Bahagia dan kesedihan hanya bisa kuselesaikan sendiri tanpa ada yang bisa membantu untuk menenangkan jiwaku ini. Dalam perjalanan satu tahun ini, sudah beberapa kali rasanya aku ingin meninggalkan kesibukanku ini dengan mengundurkan diri dan menyerah pada keadaan yang ada. Tapi ternyata semua telah terlewati dalam satu tahun.

Ntahlah, sampai kapan aku bisa bertahan dalam keadaan begini di Berlin ini, yang jelas aku sudah mendapatkan satu tahunku dan apakah aku masih bisa bertahan untuk hari-hari dan bulan-bulan berikutnya, aku sendiri tak bisa menjawabnya.

Berlin,
19.06 22.03.2010

 
Leave a comment

Posted by on 22 March 2010 in Uncategorized

 

Ayah Ibuku yang Hebat

Pernah pada suatu ketika aku bertanya pada Ibuku,
“Bu, Ibu pengen oleh-oleh apa ya?”
“rak usah wae, eman-eman duite, ditabung wae”.

Begitu juga dengan ayahku ketika aku berkesempatan berbincang lewat telpon,
“Ayah, kalau butuh sesuatu ambil aja tabunganku ya”
“Ayaha gak perlu, masih ada kok uang pensiun”
“Iya yah, tapi kalau emang butuh ya ambil aja ya yah”

Begitulah orang tua, tidak banyak berharap anaknya akan membalas apa yang telah mereka berikan kepada anaknya. Dengan cukup mengetahui anaknya hidup dalam kebahagiaan mereka telah merasa terpuaskan secara batin. Materi adalah hal yang kesekian bagi orang tua. Apa ya kira-kira balasan dari Allah untuk kedua orang tuaku yang telah mendidikku hingga aku dapat berdiri tegap saat ini? Semoga saja aku menjadi anak yang sholeh dan dapat berbakti kepada keduanya hingga akhir waktu bagi keduanya telah berakhir.

Mungkin banyak diantara kita yang jika jauh dari rumah terasa ada yang kurang dari hidup ini, kedua orang tua yang jauh serasa menghidupkan mimpi-mimpi masa kecil yang begitu menggairahkan. Masa kecil yang banyak menyisakan kenangan manis dalam benakku dalam dekapan keduanya. Ingin rasanya ikut nyempil tidur diantara ayah ibu, kemudian mendengarkan obrolan keduanya seraya menimpali dengan gaya sok tahunya. Ahhh..sungguh kangen sekali dengan masa itu, masa yang tak akan pernah kembali.

Dan saat ini mungkin menjadi waktuku untuk mempersiapkan diri belajar dari pengalaman proses mendidik anak yang diturunkan kedua orang tuaku, namun dengan gaya yang ingin kusajikan sendiri tentunya. Meski jodoh belum dipertemukan olehNya, dan momongan hanya dalam mimpi, tapi rasanya semua itu sudah ada di depan mata. Sepertinya segala persiapan ke arah pembentukan keluarga sedikit demi sedikit sudah mulai aku gali dari berbagai sudut untuk dapat disarikan yang terbaik.

Kasih Ibu sepanjang masa, dan semoga kasih anak tak akan terputus hingga kedua orang tua kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan Khusnul Khotimah. Amin.

– water inspiration-
21.13 13.03.2010

 
Leave a comment

Posted by on 13 March 2010 in Uncategorized

 

Ada Cinta di Setiap Binar Tatap Matanya 3 (Tamat)

Oleh: Farid Anggara Soeratman
Memory Reuni MTs Assalaam 1998 Tanggal 27-28 Februari 2010

Sebuah mobil sedan tua berplat AB meluncur cepat. Melintasi jalan lebar sisa landasan terbang internasional pertama di Indonesia yang dibangun sejak masa pemerintahan Belanda, di sekitar PRJ Kemayoran, yang kini lebih dikenal dengan Jalan Benyamin Suaeb. Sedan itu dimodifikasi ceper. Tapi sayang, per-per kerasnya yang kurang perawatan membuat seluruh penumpang mesti tergoncang hebat ketika melewati lubang dan polisi-polisi tidur.

“Aku mau cari tansu. Ketan susu. Kowe ngerti tempate gak, Sur?” tanya JP yang duduk di samping kursi kemudi.

“Ha? Gue gak pernah denger itu makanan,” jawab saya.

“Katanya di sekitar Kemayoran sini, kok,” lanjut JP sambil mengawasi jalan. “Aku sering ke sana. Tapi gak pernah benar-benar hafalin jalan. Rasa makanannya dahsyat, loh.”

Di jok belakang mobil, saya terjepit di antara dua sahabat yang bertubuh tidak lagi langsing. Alwan di sebelah kanan dan Isa di sebelah kiri. Sementara Kasino duduk di belakang kemudi. Perut kami semua keroncongan karena belum diisi apapun sejak makan di Bandar Djakarta siang tadi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sembilan malam. Dan kami masih berkutat di tengah Kemayoran, untuk mencari warung tansu yang menurut JP dahsyat.

Setelah tanya sana-sini, kami pun mulai mendapat sedikit titik terang. Warung itu ternyata berada di Jalan Haji Ung, dekat pool Damri. Kasino segera menekan gas lebih dalam. Memutar balik di Utan Panjang, melewati pasar tumpah, dan mengambil jalur kiri, terus menelusuri Jalan Haji Ung yang panjangnya kurang lebih satu kilometer.

Di sebelah kiri jalan sebelum lampu merah, kami melihat sebuah warung yang ramai pengunjung. Sebuah tempat makan yang sangat jauh dari kesan elit dan higienis. Luas warung itu hanya sekitar 2×3 meter persegi, dibangun dari bilik bambu dan bongkahan kayu. Sangat tidak menarik. Tapi siapa sangka, ternyata memang tempat itulah yang dimaksud JP. Sebuah tempat makan yang nyatanya sudah begitu dikenal oleh masyarakat di sekitar Kemayoran, Jakarta Utara.

Di tengah udara malam yang gerah, kami berlima turun dari mobil dan menghampiri warung, memesan 5 ketan susu dan teh manis hangat, kemudian duduk di bangku-bangku panjang tanpa meja yang tersebar berantakan di sekelilingnya. Tidak lama, ketan susu pesanan kami pun tersaji. Apa yang dimaksud JP sebagai ketan susu memang benar-benar ketan putih biasa saja. Ketan putih rebus yang ditaburi parutan kelapa di atasnya, dan disiram lagi dengan susu kental manis putih. Gorengan tempe pun turut disajikan. Katanya biasa dikonsumsi sebagai lauk. Ada-ada saja.

Setelah semuanya tersaji, kami mulai mencicipi hidangan itu. Tentu dimulai dari ketan susunya. Kami pikir, kombinasi ketan, susu, dan gorengan akan terasa biasa saja. Saya sudah cenderung memandang sajian itu dengan sebelah mata. Tapi ternyata, apa yang saya duga sebelumnya adalah sebuah kesalahan besar. Benar apa kata JP. Tansu benar-benar dahsyat! Pas ketannya. Pas juga susunya.

Kami pun makan dengan lahap sampai berkeringat. Setelah puas, kami menuju Mampang, ke rumah Ila. Untuk bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Tanpa sempat mandi. Dengan pakaian yang sudah penuh dengan noda kristalisasi keringat.

***

Tepat tengah malam. Kalender di ponsel saya menunjukkan bahwa hari sudah berganti, menjadi Minggu, 28 Februari 2010. Sekarang kami berada di pelataran parkir Tamani Kafe, di bilangan Melawai. Menurut Ila, di lantai dua gedung ini ada Inul Vista, tempat karaoke yang biasa ia manfaatkan untuk membuang jenuh sehabis bekerja.

Kami naik ke lantai dua menggunakan lift. Tapi rupanya, menurut pegawai yang bertugas, kami masih harus naik tangga satu tingkat lagi. Karena ruang karaoke yang telah disiapkan terletak di lantai tiga.

Di lantai tiga, kami berjalan mengikuti lorong utama, menuju ke pintu yang terletak paling pojok, dipimpin Dayu yang berjalan paling depan. Begitu pintu terbuka, suara dentuman musik yang kencang serta merta menyapa telinga kami. Suara sumbang yang mengikuti alur irama lagu pun terdengar di antara iringan musik. Ternyata sebagian teman-teman telah ada yang sampai lebih dulu. Mereka sudah menyanyi. Saya sendiri tidak ingat lagu apa yang mereka nyanyikan. Lupa juga siapa yang saat itu sedang bernyanyi, sepertinya Fikih Agung. Yang jelas, saya dan beberapa teman yang baru ikut masuk pun tertular euforia. Dayu sendiri sampai berteriak kegirangan, “Yeeeeaaaaaah!” Dan mulai ikut menarik pita suara, bersama kurang lebih 25-an teman yang lain.

Ruang karaoke tempat kami berpesta ini terbilang cukup luas. Berbentuk kubus dengan panjang lebar berkisar 10×8 meter. Memang didisain sebagai ruang pesta kecil rupanya, dengan lampu-lampu kuning yang bergantung di langit-langit dan di pojok dinding. Di ujung ruang, sofa-sofa yang nyaman tampak berderet rapat, bersisian dengan dinding, menghadap monitor layar datar selebar 29 inci. Jarak antara monitor dengan sofa terbilang cukup lapang, dan cocok bila dijadikan lantai dansa. Sebuah ruangan yang penuh pencitraan hedonisme. Dan saya sangat menikmatinya.

Saya memilih tempat duduk di tengah gadis-gadis cantik: Zaqiah, Een, dan Neimah. Sengaja. Supaya bisa sedikit tebar pesona, ataupun hanya sekadar memandangi wajah mereka. Semacam ritual kecil-kecilan. Karena kata orang, berdekatan dengan perawan-perawan cantik itu bisa membuat seorang pria tetap tampak awet muda. Saya tidak ingat siapa yang pernah berkata demikian. Tapi saya menurut saja. Toh tidak ada ruginya. Dan selanjutnya, di tengah wanita-wanita itu saya duduk santai, bersandar di sofa. Kaki saya pun tak henti-hentinya bergoyang, seiring hentakan irama lagu demi lagu.

Sedang asyik-asyiknya bergoyang di sofa dengan dikelilingi perempuan cantik, tiba-tiba musik berhenti. Sedikit masalah terjadi karena teman-teman masih belum paham benar cara mengoperasikan remote karaoke player. Britanto, Lupe, dan Iqbal yang kebetulan posisinya berada paling dekat dengan remote, lantas kebingungan. Tidak terlalu tahu harus diapakan remote itu agar player mau terus memutar lagu-lagu yang sebagian telah dimasukkan ke dalam playlist. Dongki, Kasino, dan Brutu cepat-cepat ikut nimbrung. Demikian juga Fikih dan Dayu. Mereka saling bahu-membahu, berebut remote, agar kebisuan tersebut dapat segera terselesaikan. Lewat kerjasama kompak yang agak berlebihan itu, akhirnya masalah pun terpecahkan. Lagu kembali mengalun.

“Minuman keras!” teriak Dongki dan Brutu sambil mengikuti teks di layar monitor.

“Miras!” sahut teman-teman serempak.

“Apapun namamu…,” Dongki dan Brutu makin terbawa, menghayati lagu ngetop milik Rhoma Irama berjudul Mirasantika itu. “Tak akan kureguk lagi, dan tak akan kuminum lagi, walau setetes.”

“Setetes!!!” balas yang lain lagi dengan disambut derai tawa semua orang.

Kami menyanyi saling bergantian mengingat jumlah mikrofon yang hanya dua buah. Tidak ada rasa malu dan sungkan. Karena memang tidak ada satu pun di antara kami yang memiliki suara emas. Suara perak pun sepertinya langka. Kebanyakan, suara kami termasuk dalam kategori suara perunggu. Jadi, ketika ada teman yang ternyata kemampuan suaranya masuk dalam kategori suara timah dan tembaga, ya, kami semua asyik-asyik saja. Tidak ada hasrat saling mencela. Tidak ada yang merasa rendah diri. Semua hanya ingin bersenang-senang!

Supaya suasana makin panas, di beberapa lagu, kami coba untuk berdiri. Bahkan ketika dirasa ada lagu yang seru untuk berjoget, kami pun tak segan-segan maju menuju lantai dansa. Membentuk barisan, berangkulan, dan menyusun formasi apapun sesuka hati. Tanpa ada beban. Tanpa ada kekhawatiran. Sepanjang masih ada waktu, kami terus menari, menggila. Sambil mengangkat gelas-gelas minuman, bersulang, di tengah aroma tajam asap rokok bercampur keringat yang tercium dari kemeja, tubuh, serta mulut para lelaki.

Di tengah cahaya temaram lampu ruangan itu, kami terus tertawa, larut dalam suasana, seolah akan hidup untuk selama-lamanya.

***

Saya tidak terlalu ingat sudah menyanyikan berapa lagu dalam ruang itu. Sahabat Jadi Cinta milik Zigaz dan Selir Hati yang populer dinyanyikan TRIAD sepertinya termasuk di antara lagu-lagu yang saya bawakan. Saya tidak pandai menyanyi. Makanya saya sangat bersyukur ketika menyadari bahwa Ila terus mem-backup, menyertai saya, sepanjang menyanyikan lagu.

Ngomong-ngomong, saya juga sempat berduet dengan Latifah, membawakan lagu dangdut lawas berjudul Dokter Cinta. Sebenarnya, Latifah berniat duet dengan Dayu. Berhubung saya tak tahan ingin menyanyikan lagu itu, terpaksa saya rebut saja mikrofon dari tangan Dayu. Kemudian, saya dan Latifah maju ke muka ruang, bernyanyi dan menari. Suara memang pas-pasan. Tapi kami sangat begitu menjiwai peran masing-masing. Berakting layaknya sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Nilai yang tertera di layar juga tidak seberapa. Tapi rasa puas yang kami berdua rasakan, sungguh luar biasa.

Para penanggung jawab acara yang lain pun tidak ketinggalan. Dan saya cukup terkaget-kaget. Tidak pernah menyangka kalau ternyata Harkop dan Imam Yuli Marsanto (Butong) termasuk pria-pria yang suka memegang mikrofon. Mereka bernyanyi dengan baik, cukup banyak, dan penuh rasa percaya diri. Mengejutkan!

Een, si mungil cantik yang bermata indah itu, pada kesempatan kali ini terlihat agak malu-malu. Ia hanya menyanyi sekali, dibantu Britanto dari kejauhan, menyanyikan lagu Linkin Park yang jadi salah satu soundtrack dalam film Twilight: Leave Out All the Rest. Mereka bernyanyi cukup aman. Meskipun suara yang dikeluarkan sama sekali tak bertenaga, tapi tidak terdengar ada yang sumbang.

Agak berbeda dengan Neimah. Gadis bermata bulat ini tidak terlalu pandai bernyanyi. Tapi saya suka dengan sikap polos dan cerianya yang tidak pernah menolak bila ditawari mikrofon. Neimah sempat menyanyikan lagu Cinta Gila milik Ungu, berganti-gantian mikrofon dengan saya. Di satu sesi, ia juga menyanyikan lagu Lembayung Bali yang dipopulerkan Saras Dewi, sendirian. Dayu hanya membantu dengan mikrofon satunya sesekali. Dan ketika Neimah bernyanyi, sampai pertengahan lagu, kami semua mulai merangkul satu sama lain, membentuk lingkaran, dan menyenandungkan syair lagu sama seperti yang Neimah nyanyikan.

Penampilan Neimah –sebagaimana juga sebagian besar dari kami– jauh dari kata sempurna. Satu-satunya yang sempurna hanyalah rasa cinta yang terpancar lewat mata kami, saat memandang satu sama lain. Dan perasaan itulah yang menyulut sebuah kesadaran untuk saling melengkapi. Memberi motivasi, mempertebal rasa percaya diri, dan menambal kekurangan. Sehingga ketika kami semua berdiri berangkulan, yang Neimah rasakan hanyalah perasaan nyaman. Seperti berada di dalam sebuah keluarga besar yang tak kan pernah berhenti menyayanginya, sampai kapan pun.

Fajar Hanif Wirawan juga menunjukkan sedikit kebolehan. Ia menyanyikan lagu ST12 berjudul Saat Terakhir.

“Anggap saja ini sebagai persembahan dari saya dan teman-teman asal Jawa Timur yang tidak semuanya bisa hadir dalam acara ini,” ujar pria yang menyelesaikan program sarjananya di jurusan psikologi Universitas Muhammadiyah Malang itu sambil sedikit berdiplomasi. Dan saat menyanyi, ia terlihat sangat menikmatinya.

Rata-rata kami memang memilih lagu yang gampang dinyanyikan. Berbeda dengan Rino. Entah karena salah pilih atau bagaimana, ia justru memilih lagu yang terbilang sulit.

“Kaaaaarena akuuuuu. Sang Pangeran Cintaaaaa, phuaah! Uhuk, uhuk, uhuk!” Rino terbatuk kecil. “Aduh, Sur. Tinggi banget nih lagu.”

“Lagian. Lo pikir diri lo Once sih!” Saya hanya tertawa kecil. Kasihan juga melihat wajah Rino yang mendadak merah itu.

Menjelang pukul setengah tiga, kami semua berjoget, memadati lantai dansa dengan diiringi lagu Kucing Garong. Kasino sempat menyanyikan sederet kata-kata yang memancing tawa. Nada intro pada lagu itu diplesetkan menjadi kalimat “pacaran, ora kawin ora enak” berkali-kali. Lagu ini adalah lagu penutup dari pesta meriah dalam ballroom mini tersebut. Meskipun terasa agak tanggung –karena lagu itu ternyata berhenti di tengah-tengah– setidaknya kami semua cukup puas. Karena cerita tentang kebersamaan kami tidak berakhir hanya sampai di Ancol.

***

Adzan subuh hampir berkumandang ketika kami terdampar di halaman parkir Plaza Sarinah, Thamrin. Tujuan kami ke kawasan itu sebenarnya untuk mencari makan. Tapi entah mengapa, ketika sudah turun dari mobil, kebanyakan kami hanya duduk-duduk saja di trotoar. Tidak ada yang beranjak untuk benar-benar cari makan.

Saya sendiri baru keluar dari mobil setelah puas berbicara panjang lebar tentang karakteristik manusia dan turunan-turunannya dengan Eka Citra dan Rinna, dalam mobil sedan kepunyaan Arbud. Saya turun karena teringat belum shalat Isya. Saya menghampiri Alwan yang terlihat bingung. Saya tahu, dia juga belum shalat Isya. Oleh karena itu, kami berdua segera bergegas ke gedung Djakarta Theater yang tepat berada di seberang Plaza Sarinah. Saya ingat, bahwa di belakang gedung itu ada masjid agak besar berwarna hijau. Dan ke sanalah kami berdua melangkah.

Usai shalat, kami menyantap nasi goreng dorong yang sedang mangkal di luar pagar Plaza Sarinah, sambil sedikit membicarakan keadaan kami masing-masing. Sedikit tentang masa lalu. Dan sedikit tentang harapan-harapan yang ingin kami capai di masa depan. Tidak terlalu lama. Sebab bila sampai terlena, kami khawatir akan ditinggal oleh teman-teman yang lain.

Nasi goreng kami bayar setelah tak ada lagi butir nasi dan kerupuk yang tersisa. Kemudian, dengan setengah berlari, kami kembali menuju pelataran parkir Plaza Sarinah. Dan benar saja. Ketika sampai di sana, seluruh rombongan sudah masuk ke dalam mobil, bersiap untuk pulang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah. Agak tergopoh-gopoh, saya mendekati mobil jingga mentereng berlabel Lazis Muhammadiyah, menggedor pelan-pelan pintunya, sebelum kemudian melompat ke dalam mobil. Fiuh, suhu dalam mobil justru terasa jauh lebih sejuk dibanding di luar sana. Cuaca yang aneh. Di pagi yang masih buta seperti ini, tubuh saya bahkan tidak ada bosannya terus-terusan mengeluarkan keringat. Panas bukan main!

Setelah memeriksa kembali seluruh rombongan, kami segera meninggalkan Plaza Sarinah. Bertolak menuju Menteng, dengan diiringi sayup-sayup adzan subuh yang terdengar dari corong-corong masjid di kejauhan.

***

Saya hanya terdiam ketika melihat satu per satu teman berpamitan, meninggalkan gedung Muhammadiyah untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Untuk memulai kembali pergelutan dengan dunia nyata yang selama ini mereka coba untuk taklukkan.

Tak ada yang bisa saya cegah. Tak ada yang bisa saya hentikan. Semua berjalan mengikuti perputaran waktu. Sama seperti yang terjadi pada pagi ini, ketika lagi-lagi saya harus pasrah kepada Sang Fajar yang memaksa keluar dari balik langit pekat, tanpa ada satu kekuatan pun mampu mencegahnya.

Britanto, Rinna, Eka, Een, Iim, Fikih, dan akhirnya Lupe. Satu-satu berbalik arah, menjauh pergi. Saya pun hanya bisa termangu, melihat punggung mereka yang semakin mengecil, meredup, hingga akhirnya hilang ditelan pagi.

Suasana sudah semakin sunyi. Sebagian teman rombongan dari Jogja dan Semarang memilih masuk untuk istirahat di mess, begitu juga Arbud. Saya sendiri masih terjaga di teras masjid gedung Muhammadiyah ditemani Latifah, Dongki dan Kasino. Saya tidak boleh pulang ataupun tidur meskipun mata ini rasanya sudah berat sekali. Sebab saya mendapat amanat dari Harkop untuk mengawal kepulangan beberapa teman ke rumah dan stasiun. Memastikan semuanya terurus dan baik-baik saja.

Pukul 5.30, Dongki pun merasa ngantuk. Saat dia akan berjalan menuju mess, saya berpesan,

“Dongki, sebelum lo tidur, bangunin Isa dulu ya. Suruh siap-siap. Dia mesti naik kereta jam 7 soalnya.”

“Oke, Sur,” jawab Dongki sambil menguap.

Isa muncul di hadapan saya sudah dalam keadaan rapi tepat jam 6. Tapi saya tidak lantas terburu-buru. Obrolan basa-basi masih berlangsung selama seperempat jam kemudian, sebelum saya berjalan ke parkiran untuk memanaskan motor. Sekitar jam setengah 7, barulah kami melesat menuju stasiun Gambir dengan mengendarai motor tua saya. Di jalan, motor berjalan terhuyung-huyung tidak seimbang, karena postur Isa yang saya bonceng jauh lebih besar dan berat dari saya. Itu pun belum dihitung dengan beban tas jinjing besar yang dibawanya.

Sampai di depan gerbang stasiun besar berwarna kehijauan itu, Isa turun.

“Udah, udah. Kamu anter aku sampai di sini aja.”

“Yakin? Gak perlu gue temenin ke dalam?”

“Iya, gak usah. Terima kasih ya, Sur.”

“Hati-hati ya, Sa. Kalo bingung, tanya-tanya orang aja.”

Kami bersalaman. Saya sebenarnya sudah ingin memundurkan motor sehabis bersalaman itu. Tapi ternyata saya masih harus dikejutkan kedua tangan Isa yang tiba-tiba melingkar di pundak saya. Ia memeluk pelan. Sebuah pelukan yang sepertinya baru kali ini terjadi di antara kami.

Isa dan saya memang terbilang bukan teman yang terlalu dekat. Tapi melihat perlakuan Isa yang seperti itu, saya pun sadar, bahwa intensitas komunikasi kadang tidak bisa selalu dijadikan ukuran kedekatan antara individu satu dengan yang lain. Ada ikatan lebih kuat dari ikatan yang sekadar dibina melalui pendekatan verbal. Mungkinkah ikatan almamater? Mungkinkah ikatan yang disebut ukhuwah itu? Ikatan persaudaraan? Entahlah.

“Sukses ya, Sur. Buat segala-galanya.”

“Terima kasih. Lo juga ya. Sukses untuk hidup lo.”

Dan kami pun sama-sama tersenyum.

***

Pukul 11.00, saya terbangun. Masih dalam keadaan tertelungkup, saya memandang ke sekeliling mess yang sejuk karena penyejuk ruangan. Posisi saya berada di atas ranjang, berdesak-desakkan dengan Alwan. Di dua ranjang lain dan di lantai keramik dingin yang tidak seberapa luas, terlihat teman-teman pria yang sebagian masih tertidur, bertebaran dan berdesakan. Seperti ikan pepes memang. Tapi saya yakin, kami semua cukup terbiasa menghadapi masalah tidur semacam ini.

Dalam keadaan setengah sadar, saya coba-coba mengingat peristiwa beberapa jam sebelumnya, seusai mengantarkan Isa ke stasiun. Agak sedikit lupa. Tapi sepertinya, saya sempat menemani Kasino memulangkan Ila ke rumahnya di Mampang. Juga menemani Dayu –yang harus segera kembali ke kosnya di Bandung– ke terminal Lebak Bulus. Di mobil gaul plat AB yang jadi tumpangan kami, Kasino memegang kemudi dan saya bersiaga sebagai navigator, berada di sebelah kirinya. Perjalanan jarak dekat ini lagi-lagi merupakan sebuah amanat Harkop kepada saya, agar memandu Kasino yang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta.

Di jok belakang saya ada Ila, Dayu, dan Latifah. Latifah sendiri ingin mengambil beberapa barang yang tertinggal di rumah Ila sekaligus berpamitan, mengucap terima kasih, kepada Mama Ila yang telah bersedia “meminjamkan” rumahnya sebagai basecamp darurat.

Di dalam mobil, saya sepertinya sudah tak kuasa menahan beban mata yang terus meminta diistirahatkan. Saya pun sesekali tertidur. Dan terbangun hanya di saat Ila dan Dayu sudah diantar sampai tujuan. Baru di perjalanan balik ke Menteng-lah mata saya benar-benar bisa terbuka lagi. Itu pun karena satu sebab, mobil tiba-tiba oleng.

“Duh, inyong ngantuk,” celetuk Kasino tiba-tiba.

“Asem. Terus gimana, dong?” rasa kantuk saya mendadak hilang.

“Ya, kowen aja turu maning! Temenin ngobrol!” ujar Kasino sewot.

Jam sembilan kami sudah memasuki pelataran parkir gedung Muhammadiyah lagi. Latifah yang sedari tadi tertidur pun bergegas turun dari mobil, diikuti saya dan Kasino. Latifah langsung menuju parkiran, untuk memanaskan motornya.

“Gak usah nungguin aku, Sur. Kalo ngantuk, tidur aja sana,” kata Latifah.

Saya menguap. “Ya udah deh. Titi dije ya. Kita kontek-kontekan lagi besok.”

“Oke, salam buat teman-teman yang masih tidur.”

“Insya Allah. Gak janji, ye. Soalnya gue gak yakin masih sempet ketemu sama mereka. Bentar lagi gue juga kepengen pulang soalnya.”

Saya memasuki mess dan berbaring di lantai bersebelahan dengan Dongki. Tanpa sempat melepas sepatu, saya pun tertidur pulas. Dan terbangun lagi pada saat ini, dua jam kemudian, dengan posisi yang sudah berpindah ke atas ranjang, dan sepatu yang sudah terlepas.

Aneh.

***

Angin Ibu Kota yang panas dan lengket menerpa wajah saya dan Alwan saat berboncengan mengendarai motor menelusuri Jalan Gatot Subroto. Kami sudah meninggalkan gedung Muhammadiyah untuk berniat pulang. Di sepanjang perjalanan, kami berdua tidak lagi banyak berbicara. Tapi pikiran kami tak hentinya berkelana membayangkan kejadian yang baru saja dialami. Tentang persahabatan, persaudaraan, dan solidaritas. Tentang betapa berharganya tiga tahun kebersamaan di Madrasah Tsanawiyah yang kami lalui belasan tahun silam. Tentang cinta yang berapi-api di setiap binar tatap mata kami, saat berbicara dan bercengkerama satu sama lain.

Sejak hari itu, banyak harapan baru yang tumbuh dalam benak saya. Harapan akan perubahan, apapun bentuknya. Perubahan yang paling jelas sudah terejawantahkan dengan adanya nama-nama baru dalam daftar kontak di ponsel maupun Facebook. Tapi saya masih berharap akan ada perubahan dinamis dalam segi yang lain. Sebuah perubahan yang fantastis. Misalnya, seperti menikahi salah seorang di antara wanita-wanita cantik itu, agar bisa segera saya suruh-suruh untuk memandikan dan menyusui anak saya, juga bapaknya. Pasti seru sekali! ^_^

“Lo abis ini mau ngapain, Far?” Alwan membuyarkan lamunan saya.

“Mau tidur lagi, lah. Udah jelas itu.”

“Maksud gue, apa yang mau lo lakuin dengan hidup lo selanjutnya? Kawin?”

“Iya, pastilah.”

“Kapan?”

“2011. Tapi sama siapanya, gue belum tau. Hahahaha!”

“Terus? Jurnalisme?” tanya Alwan lagi.

“Gak tau. Kalo cuma begitu-begitu aja, gue pengen cari yang lain. Berbisnis di musik lagi mungkin.”

“Ooh,” Alwan hanya melongo.

“Kenapa, emang lo mau terjun ke media juga?” tanya saya.

“Mmm, menurut lo gimana? Masih ada kans gak buat gue?”

Dan saya pun hanya terkekeh.

Pasar Kramat Jati tetap ramai meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan yang terlalu parah. Saya mengendarai motor dengan perlahan, seperti biasanya. Dan setelah beberapa kali melewati kerumunan angkot-angkot yang ngetem sembarangan, pertigaan yang menjadi tujuan kami pun mulai terlihat dari kejauhan. Pertigaan Hek. Di sanalah Alwan minta diturunkan.

“Thank you, Sob.” Alwan menyalami saya. “Terus, ngomong-ngomong, lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi.”

Saya menghela nafas. Mengutarakan opini-opini yang berseliweran dalam benak saya selama beberapa menit, sebelum mengucap salam perpisahan untuk terakhir kalinya. Alwan membalas dengan senyum. Sekali lagi, ia berterima kasih dan menjabat tangan saya erat-erat. Setelah itu, saya pun menancap gas dan berbelok kiri, menuju arah Pondok Gede. Menghilang di balik padatnya lalu lintas kota.

***

Hidup adalah anomali yang kadang dihias dengan berbagai macam keanehan dan ketidakmungkinan. Kurang lebih itulah pesan tersirat yang coba saya sampaikan pada Alwan di akhir perjumpaan kami. Di usia sebaya kami, memulai dari awal sesuatu yang baru, sering dirasa kurang pas oleh banyak orang. Terlambat katanya. Tapi saya yakin, tidak ada hal yang tak mungkin dicapai bila keinginan itu dikejar dengan usaha yang sungguh-sungguh. Ya, karena hidup itu memang aneh. Tidak selalu bisa diprediksi. Dan segala fenomena apapun, selalu memiliki kemungkinan untuk terjadi, meski seringkali berlawanan dengan akal sehat.

Begitu juga dengan acara tempo hari. Saya mendapati banyak sekali anomali dalam pembicaraan ataupun gosip-gosip yang berhembus di sekitar teman-teman. Mulai dari obrolan aneh tentang Lupe yang akan menikah dengan Pak Djadjuri ayah Brutu. Atau sebuah foto mesra Lupe dan Dongki dalam Facebook yang mengundang komen panjang teman-teman, padahal di sisi lain Dongki sendiri tengah santer digosipkan dengan Miss You Know Who. Begitu juga Brutu. Ia harus rela terkena gosip akibat komentarnya yang kontroversial ketika ditanyai pendapat mengenai sosok Neimah.

“Brut, menurut lo, Neimah gimana?” tanya seseorang di antara kami.

“Wah, pokoknya, Neimah itu, aku bangets!” jawab Brutu cengar-cengir dan disambut dengan ledekan kami semua.

Ya, anomali. Memang itu kerap terjadi dalam setiap interaksi antarmanusia. Dan khusus untuk teman-teman angkatan kami, anomali bahkan sudah terjadi sejak dulu. Sejak kami merilis buku kenangan berjudul The Black Album, yang justru diberi sampul berwarna biru. Ah, buku yang aneh. Sama anehnya dengan perasaan saya ketika tak sengaja menatap mata Een dan Neimah. Perasaan aneh yang harus membuat saya mengaku bahwa saya telah jatuh cinta, dengan sebuah cinta tulus yang begitu besar. Sebesar rasa cinta saya terhadap Arbud, Alwan, Brutu, Dongki, Rino, dan seluruh teman alumnus Madrasah Tsanawiyah Assalaam ’98.

***

Siang itu, matahari pun terus meninggi. Seiring lagu Metallica yang saya dengarkan melalui ponsel, mengalun perlahan menuju bait terakhir.

Ash to ash…
Dust to dust…
Fade to black…
And, the memory remains…

***
(selesai)

 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2010 in Uncategorized

 

Ada Cinta di Setiap Binar Tatap Matanya 2

Oleh: Farid Anggara Soeratman
Memory Reuni MTs Assalaam 1998 Tanggal 27-28 Februari 2010

Sabtu, 27 Februari.

Saya baru sampai lagi ke gedung Muhammadiyah pukul 11.30. Saat memasuki aula gedung, betapa terkejutnya saya begitu menyadari teman-teman lama yang selama ini sudah tidak diketahui lagi di mana rimbanya muncul di hadapan saya dengan wajah yang berseri-seri. Andi Rizqi, Wahyudi, Britanto Dani Wicaksono, Dudi Hartaka, Insan Wibowo, Eko Wibisono, Alwan Rasyid, dan Rinna Sabrina hadir dengan penampilan-penampilan”baru

” yang membuat pangling. Jauh lebih dewasa. 😛

Tidak ketinggalan juga sahabat-sahabat saya yang hingga hari ini masih sering berkomunikasi lewat forum arisan seperti Melati Antartika, Nunik Nurhidayati, Swastika Asti, Andari Nur Rochmani (semalam ia bersama kami di gedung ini, tapi tidak ikut jalan-jalan ke Taman Menteng), Mellya Askarini, Marlia Idfi Kalsum, Enda Puspitasari, dan Dayu Purnama. Sebagian mereka hadir dengan membawa momongannya masing-masing. Tapi tunggu dulu! Rupanya ada dua wajah dan nama yang belum saya kenal. Mereka adalah Eka Citra dan Sari Puspita Harmani. Saya pun bersalaman dengan mereka berdua, sekaligus memperkenalkan diri.

“Hai. Nama saya Farre. Alias Fangsur. Salam kenal ya, Bu.”

Tidak lama setelah ritual sapa-menyapa, kami bergegas masuk ke dalam mobil. Ada sekitar 5 sampai 6 mobil di pelataran parkir itu. Dari kantor Muhammadiyah, kami menuju rumah makan Bandar Djakarta, di bilangan Ancol. Sebab, memang di sanalah resminya acara Reuni Madrasah Tsanawiyah Assalaam Angkatan ’98 diadakan. Bagi saya, di tengah cuaca terik dan perut kelaparan, berkumpul di Bandar Djakarta yang terkenal elit dengan pemandangan indah tepi pantai memang jadi sebuah pilihan yang tepat. Ah, jadi makin cinta saja saya dengan para panitianya. Sayangnya, itu semua tidak gratis. Kami harus membayar uang sejumlah Rp 60.000 supaya bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini. Namun rasanya, semua biaya yang mesti dikeluarkan itu cukup setimpal dengan segala macam kesenangan yang kami dapat. Good foods, good beverages, and long-lasting relationships.

Setibanya di Bandar Djakarta, kami langsung menuju meja yang sudah disediakan dan dipesan oleh panitia jauh-jauh hari. Posisi kami benar-benar sangat nyaman. Tepat berada di batas pinggir air laut. Semilir angin, pemandangan perahu bebek yang mondar-mandir di tengah laut, dan akuarium-akuarium ikan laut adalah beberapa alasan yang menjadikan kami semua merasa betah untuk sedikit berlama-lama di sana.

Di atas 6 buah meja panjang yang masing-masingnya bisa digunakan untuk 10 orang, beraneka ragam makanan laut yang begitu menggiurkan telah tersedia. Tapi saya tidak makan terlalu banyak. Karena takut berat badan akan semakin bertambah dan mengurangi kadar ketampanan saya yang pada dasarnya sudah tidak begitu tampan ini.

Saya lebih memilih mondar-mandir menyapa teman-teman lain yang ternyata sudah sampai di Bandar Djakarta lebih dulu dari rombongan kami yang berangkat dari Menteng. Arizal Firmansyah, Lukman Mamen Hakim, Fikih Agung, dan Chudori Akbar termasuk beberapa di antaranya. Begitu juga dengan Wahyu Hidayat. Pria tampan berkacamata bertubuh jangkung ini masih tetap kelihatan kalem seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Dan rupanya, pembawaan dia yang seperti itu menarik perhatian seseorang dari rombongan wanita: Nurina Nafilla (Ila). Sorot mata Ila yang tajam seperti tak mau lepas dari Wahyu. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita muda bertubuh bohai itu. Semacam tersirat rasa penasaran. Tapi, terserahlah. Saya tidak mau berspekulasi terlalu jauh perihal kejadian ini. Biarkan saja semua terjadi apa adanya, secara alamiah, dan naluriah. Sebagaimana yang terjadi pada manusia dewasa, pada umumnya.

Dan, hei, ternyata ada Marieska Dianing Prahasari juga di sana. Sahabat lama yang sering saya jadikan tempat “menumpang” makan bila merasa lapar, saat sedang bermain-main di Jogja di sekitar tahun 2000-an. Maklum, ketika saya terus melanjutkan jenjang SLTA di Sukoharjo, Marieska sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di Kota Pelajar. Ia bersekolah di SMU Muhammadiyah 1. Marieska pulalah yang sering bertindak sebagai pemandu wisata ketika saya ingin mengunjungi teman-teman lain yang bersekolah di Jogja. Ah, masa lalu.

Selain Marieska, wajah-wajah lama yang pernah singgah dalam memori saya pun turut hadir. Queenila Savina, Ratna Dewi, Fadillah Nurusa’adah, Lela Rosaningtyas, Melvinasari Nadjib, Kiswantini, dan tentunya si besar MR Wibisono (Bison) yang datang bersama istri dan bayi mungilnya. Duh, lucunya. Melihat pemandangan semacam itu, rasanya saya juga ingin cepat-cepat punya bayi, untuk ditimang-timang, dicium-cium, dan digendong ke mana-mana. Pantaskah saya? Rasa-rasanya belum. Sebab, di siang terik yang berangin itu, saya malah sempat-sempatnya membuat putri kecil dari seorang sahabat saya, Nunik, menangis.

Ampun!

***

Rambut saya rontok tiga helai. Mungkin disebabkan umur. Mungkin juga disebabkan riwayat masa lalu saya yang seringkali mengubah tatanan rambut sesuka hati, tanpa diimbangi perawatan yang memadai. Tapi ada satu faktor lain yang menurut saya lebih mendekati kebenaran: gitar akustik yang sedang ada di kedua tangan ini, sulit sekali disetem. Meningkatkan potensi stres, membuat dahi saya sampai berkeringat, meskipun angin berhembus begitu kencang. Dan yang paling mengesalkan, rambut saya yang tidak lagi tebal seperti dulu ini, yang sejak setahun lalu saya rawat dua minggu sekali, sampai jadi berkurang tiga helai. Sial.

“Gimana, Sur? Bisa setem gak?” tanya Eko Wibisono si disc jockey (DJ) bersuara merdu yang duduk di samping saya.

“Gak bisa. Ini gitar udah amburadul banget. Tapi, ya udah. Kita manfaatin apa yang ada aja.”

“Maksudnya?”

“Ya, kalo nih gitar rada fales-fales dikit, cuekin aja, hehe. Kan lo yang bakal nyanyi ini.”

“Ih, apaan? Ogah ah. Elo aja!” air muka Eko langsung berubah.

“Yeeee, gimana sih. Katanya mau ikutan audisi vokalis Kerispatih. Masa’ disuruh nyanyi di mari doang kagak mau, sih? Nyanyi ya! Itung-itung latihan.”

“Ogah.”

“Hayolah. Lagu yang Cinta Putih. Gue iringin pake gitar deh.”

“Pokoknya, ogah!” Eko merengut dan saya pun hanya bisa tertawa.

“Wakakakakakak!”

Hari sudah menjelang sore ketika saya dan Eko duduk di bawah salah satu pohon nyiur yang berjejer di sepanjang pantai. Di hadapan kami, ada tenda darurat sewaan yang telah tersusun seadanya. Tenda itu hanya berupa kain besar berwarna merah biru yang dipasang membentang, setinggi satu setengah meter dari permukaan tanah. Tonggak-tonggak dari besi dipancangkan di berbagai sudut-sudut kain sebagai pondasi. Tikar-tikar lusuh pun bertebaran di bawahnya, berfungsi sebagai alas duduk bagi kami semua, agar tidak langsung bersentuhan dengan pasir pantai dan mengotori pakaian.

Usai makan siang dan bercengkerama di Bandar Djakarta tadi, rombongan kami segera pindah tempat, menyusuri jalan-jalan lurus di Ancol, menuju Pantai Karnaval. Kami berhenti setelah melewati Backstage dan Mc Donald, dekat sebuah gubug reyot berwarna hijau-merah. Tak begitu jauh dari gubug itu, tenda kami telah menunggu. Siap dipakai. Dan di sanalah kami berada saat ini. Untuk melanjutkan rangkaian acara reuni.

“Setelah belasan tahun tidak bertemu, akhirnya kita bisa berjumpa lagi di tempat ini.” Suara tegas Alwan Rasyid –mantan ketua seksi kesenian– yang memberikan sambutan atas nama pengurus angkatan, sejenak mengalihkan perhatian saya dari si gitar tua. Alwan, sang jawara tartil Quran. Pria yang sekarang bekerja sebagai karyawan perusahaan di Cibitung itu sudah menjadi jurnalis sejak SD, bahkan sebelum saya tahu apapun tentang urusan tulis menulis. Pria cerdas, diplomatis, bijaksana, dan berkualitas tinggi. Hanya satu hal yang sangat saya sesalkan tentang dirinya: bidang yang ditekuninya kini sangat jauh dari apa yang pernah saya bayangkan.

Ngomong-ngomong, sambutan Alwan merupakan sambutan yang kesekian dalam acara inti reuni yang sedang berjalan ini. Kalau tidak salah, sementara Harkop dan Neimah menjadi pemandu acara, Een sebagai perwakilan panitia dan Zaqiah sebagai perwakilan ketua angkatan putri juga sempat maju bergantian memberikan sambutan. Setelah ketua-ketua itu, beberapa teman perwakilan daerah (konsul) diminta maju untuk memberikan kesan dan pesan. Saya tidak ingat siapa-siapa saja. Saya memang tidak terlalu fokus, karena terlampau sibuk mengurusi gitar tua. Bukan saya tidak menghormati berlangsungnya acara. Tapi memang karena saya dibebani tanggung jawab sebagai tukang ngamen di penghujung acara nanti. Dan terus terang, supaya tanggung jawab bisa berjalan dengan lancar, saya sepenuhnya benar-benar bergantung pada gitar yang sekarang sedang disetem ini.

Selepas sambutan-sambutan, sebagian teman-teman yang membawa momongan mulai meninggalkan tempat. Mungkin karena hari sudah terlampau sore. Mungkin juga karena angin laut yang mulai berhembus semakin kencang tampaknya tidak terlalu bagus untuk kesehatan balita-balita mereka.

Lalu, acara pun berlanjut dengan sesi bercerita tentang kehidupan masing-masing. Pada sesi ini, sebenarnya masing-masing kami bisa bicara buka-bukaan dan berbagi segala hal yang berkaitan dengan karir. Sebuah ajang yang sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan investasi. Baik itu untuk urusan investasi asmara maupun bisnis. Tapi ternyata acara berjalan tidak terlalu mulus. Sebagian dari kami ada yang ogah-ogahan. Lebih cenderung mengobrol hanya dengan teman-teman yang dianggap dekat saja, bahkan meninggalkan tenda untuk berjalan-jalan seenaknya sendiri. Sebuah perilaku yang sama sekali tidak dewasa. Dan melihat usia yang tidak lagi bisa dibilang remaja, semestinya mereka semua merasa malu!

Mungkin inilah karakter kami, orang Indonesia, yang sama sekali jauh dari tabiat Barat. Dan bagi kami, keterbukaan –meski kadang memiliki dampak positif– masih jadi satu hal yang terlalu tabu untuk dibicarakan.

***

Pukul 17.00, sinar matahari tidak lagi seterik beberapa jam sebelumnya. Kami makin merapat ke pinggir laut untuk berfoto-foto. Berdiri di atas beton pembatas pasir pantai dan karang-karang laut, sambil menikmati segarnya udara senja. Sambil berharap-harap dapat kesempatan untuk melihat sunset.

Ketika sedang asyik berfoto-foto, kami dikejutkan kedatangan Arief Budiman Zubaedi alias Arbud, sang ketua angkatan. Ia baru bisa datang sore itu dikarenakan ada urusan kantor yang masih harus dikerjakan pada siang harinya. Arbud datang dengan pakaian necis perlambang profesionalitas. Perlambang keeksekutifan muda. Perlambang keterikatan dan –tentunya– perbudakan. Sepatunya sangat mengilap. Dan saya harus mengaku, bahwa saya sampai terkagum-kagum dengan penampilannya yang seperti itu. Rapijali. Ganteng. Membuatnya terlihat seperti orang yang berdompet tebal.

Arbud punya masa lalu sebagai pemain bass kelas menengah. Ia seorang pemuda yang cerdas, meskipun seringkali terjebak dalam pemikiran-pemikiran radikal dan labirin konsep tak berujung. Dan hal tersebut justru membuatnya jalan di tempat. Selalu berpikir, berpikir, dan berpikir, tanpa bertindak apa-apa. Sangat mirip dengan diri saya. Namun bagaimanapun, saya sangat bangga bisa bersahabat dengannya. Bisa sempat membentuk band. Bisa tinggal bersama dengannya selama beberapa waktu, dan saling mendalami karakter satu sama lain. Dialah Arbud si ketua angkatan. Cucu Adam a.s. yang pertama kali mengubah nama panggilan saya dari Farid atau Fangsur, menjadi Farre.

Basa-basi yang dramatis dengan Arbud tidak berlangsung begitu lama. Sang gitar tua pun mulai beraksi, mengalunkan suaranya yang sumbang. Mengiringi kami bernyanyi banyak lagu, mulai dari Koes Plus sampai Didi Kempot, dari Iwan Fals sampai Sheila on 7. Sore itu, sepertinya memang tidak ada suara yang tidak sumbang. Termasuk suara saya dan dua puluhan kawan yang tersisa, semua sumbang. Satu-satunya teman yang saya yakini memilki suara merdu, Eko Wibisono, justru telah lebih dulu meninggalkan kami semua. Pulang ke rumahnya di Bekasi sana. Karena tidak mampu menahan syahwat, katanya.

***

Lupe muntah-muntah! Mukanya pucat dan matanya sayu. Dari tubuhnya keluar bulir-bulir keringat dingin. Tapi yang mengherankan, ribuan kata demi kata tetap meluncur dari kedua bibirnya. Ia tetap bicara dan terus bicara, hingga membuat kami semua tidak henti-hentinya terpingkal.

Kejadian itu bermula tidak lama setelah kami semua berfoto di tepi pantai. Ila menyewa sebuah perahu, agar kami bisa berjalan-jalan menelusuri tengah laut. Tapi rupanya, tidak semua orang berkeinginan sama. Ada yang mengaku mabuk laut. Dan ada juga yang paranoid, takut tenggelam. Tapi saya yakin, dua alasan tadi sama sekali tidak pas bila diutarakan sahabat saya yang bernama Septembriano (Rino). Karena saya tahu betul, Rino bisa berenang. Satu-satunya alasan Rino tidak beranjak dari pantai hanya satu, karena ia sibuk bercanda, kitik-kitikan, dengan Ata kekasih barunya, dokter cintanya. Fenomena itu cukup membuat saya berbahagia. Rino yang terkenal riang, akhirnya beranjak dewasa.

Perahu pun mulai bergerak pelan, menjauh dari tepi pantai, setelah tak ada lagi teman-teman yang mau bergabung. Rino melambaikan tangan dari jauh sambil memeluk mesra boneka kecil Manggarai-nya. Saya, Arbud, Brutu, Kurniawan Dongki Ari, Zaqiah, Rinna, Eka, Latifah, Neimah, Ila, Dayu, dan Lupe sebagai segelintir orang yang turut bergabung sebagai penumpang, membalas lambaian itu sampai tubuh Rino terlihat makin mengecil dimakan oleh jarak dan ruang. Dan di atas perahu, kami semua menyanyikan lagu-lagu Ahmad Dhani diiringi dengan gitar tua yang seolah tak pernah lepas dari kedua tangan saya. Penuh suka cita. Bernyanyi sambil menelusuri bagian perairan Laut Jawa yang begitu kotor dan penuh dengan sampah.

Kami berputar-putar dengan perahu selama setengah jam. Sebuah perjalanan yang terlalu singkat, karena tiba-tiba perahu ini sudah merapat ke pantai lagi. Benar-benar tak terasa, setidaknya itu menurut saya. Mungkin tidak demikian bagi yang lain. Misalnya Lupe. Sebab setibanya kami semua di pantai, wajah Lupe pucat pasi. Dia mabuk laut. Dan pasrah menerima nasib buruk, makanan mahal Bandar Djakarta yang tadi siang disantapnya, harus keluar lagi, didepak dari dalam perut, keluar lewat pintu depan. Lupe tampak lemas. Sialnya, di tengah keadaannya yang lemas itu, Lupe pun masih disibukkan dengan satu urusan lagi: mencari sendalnya yang hilang. Mungkin karena ia lupa menaruh di mana, atau mungkin karena disembunyikan oleh siapa. Untunglah, cerita tentang hilangnya sendal Lupe berakhir dengan happy ending. Sendal itu bertemu kembali dengan pemiliknya.

***

Matahari akhirnya terbenam. Kami pun berjalan bersama-sama menuju lahan parkir untuk masuk kembali ke dalam mobil. Dan seiring langit yang semakin gelap, mobil-mobil kami pun melesat semakin cepat, membelah jalan-jalan Ibu Kota yang kala itu terlihat lengang. Kembali menuju gedung Muhammadiyah di Menteng, ataupun rumah Ila di Mampang. Untuk bersih-bersih, maupun sekadar beristirahat.

Sampai di sini, bibir kami masih tak henti-hentinya berbicara menanyakan kabar tentang satu sama lain. Rasanya, perpisahan setelah berjumpa kembali benar-benar menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, bila tidak berpisah, itu tidaklah mungkin. Karena masing-masing kami sudah memiliki kehidupan dan harus menjalani takdirnya sendiri-sendiri.

Jam 7 malam. Kami masih mengupayakan agar ada kegiatan yang lain. Agar perpisahan yang tidak diinginkan itu tidak segera terjadi. Agar segala cerita indah ini tidak cepat berlalu.

Dan Tuhan rupanya mendengar!

***
(bersambung)

 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2010 in Uncategorized

 

Ada Cinta di Setiap Binar Tatap Matanya 1

Oleh: Farid Anggara Soeratman
Memory Reuni MTs Assalaam 1998 Tanggal 27-28 Februari 2010

Tujuh puluh dua jam berkumpul dalam satu kegiatan mungkin bisa jadi neraka bagi sebagian orang. Tapi apa yang saya rasakan beberapa waktu lalu sama sekali jauh dari bayangan menyeramkan itu. Ada rasa yang tidak bisa sepenuhnya diceritakan. Ada benih-benih cinta tumbuh yang juga sepenuhnya tidak bisa diungkapkan. Setelah 12 tahun tidak bertemu, perasaan sedu sedan sama sekali tak terasa. Yang ada hanyalah bahagia dan sejumput keharuan.

Bukan. Ini bukan sekadar perasaan sentimentil anak muda. Juga bukan sekadar cerita gombal tentang cinta bersemi masa SMA yang cukup bisa terhibur hanya dengan sebaris tulisan salam. Perasaan ini bahkan jauh lebih eksotis dibanding menatap dalam-dalam binar mata indah Een Wahyu Riscawati. Jauh lebih heboh dibanding saat mendengarkan celotehan riang tanpa henti Ika Lufitasari. Lebih. Lebih dari itu.

Apa yang saya rasakan saat itu adalah perasaan bahagia karena bisa menyambung tali silaturahim setelah terpisah oleh jarak dan waktu selama belasan tahun. Perasaan bahagia karena adanya kesempatan untuk menengok kembali satu masa di mana saya dan puluhan teman-teman masih menyusun cita-cita. Dan tentunya perasaan bahagia karena kami semua masih diberi umur untuk mengulang kembali tingkah polah masa “kanak-kanak” di tengah usia yang terus bertambah, dahi yang kian melebar, dan perut yang semakin membuncit.

Sama sekali tidak ada yang terasa seperti neraka. Bahkan, rentang waktu 72 jam yang sudah dilalui itu bisa dianggap sebagai satu fragmen dalam kehidupan saya dan teman-teman, untuk mengenang masa lalu beserta seluruh suka cita dan haru birunya. Saat kami masih teronggok di bangku Madrasah Tsanawiyah, di sebuah kota nun jauh di sana: Sukoharjo.

***

“Siapa nama lo?”

“Lila. Lila Indriana,” jawab seorang wanita berwajah keibuan kepada saya di suatu malam. Dan saya hanya manggut-manggut. Terus terang, saya tidak pernah mengenal wanita ini sebelumnya, walaupun katanya, ia termasuk alumni Madrasah Tsanawiyah Assalaam angkatan 1998. Sama seperti saya.

Lila duduk bersandar pada dinding gedung utama Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jl. Menteng Raya 62, Jakarta. Matanya tampak sangat lelah. Dari cerita yang saya dengar, ia memang baru saja menempuh perjalanan dengan kereta ekonomi dari Jogja ke Jakarta bersama teman-teman lain yang berdomisili di Jogja dan Semarang. Lila satu-satunya perempuan di antara rombongan itu. Sementara teman-teman alumni yang lain adalah M. Iqbal yang memiliki wajah sekilas seperti aktor Gary Iskak, M. Irfan Ash-Shiddiq yang sering dijuluki “Profesor” karena kepiawaiannya mengutak-atik komputer, Fajar Hanif Wirawan si pengusaha penerbitan, Kurniawan Ari juragan sapi, Septembriano Hilal –yang malam itu tidak nampak batang hidungnya karena mengencani kekasih baru yang kebetulan berdomisili di Jakarta–, dan tentunya Ari “Brutu” Prabowo –sahabat sekaligus partner bermaksiat saya selama mengenyam pendidikan di Jogjakarta-. Tak usahlah berlama-lama menanyakan bagaimana suasana perjalanan dengan menggunakan kereta itu. Mendengarkan nama “kereta ekonomi” saja, kepala saya sudah bisa membayangkan keadaan sumpek, aroma bau pesing, dan udara pengap pada tiap-tiap gerbongnya.

Dan di teras gedung yang tidak seberapa luas ini, untuk mengusir rasa penat, Lila seperti sengaja menghabiskan waktu bersenda gurau dengan seorang wanita lain di sampingnya. Seorang wanita berwajah cukup manis dan lucu, yang tak henti-hentinya menarik perhatian mata saya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di pelataran kantor ormas Islam ini. Iim panggilannya. Tapi saya lebih suka menyebut nama lengkapnya yang indah saja. Neimah Baidani. Seorang putri Solo yang selama beberapa tahun ini telah berdomisili di Jakarta.

Neimah bermata bulat. Berpipi tembam. Dan berhidung mancung. Kawat behel yang melapis di deretan giginya, menambah kesan lucu di saat ia sedang tersenyum. Saat itu Neimah mengenakan setelan pakaian dengan dominasi warna coklat yang serasi dari kerudung hingga celana panjangnya. Dengan penampilannya yang sesederhana itu saja, rasanya saya sudah cukup terpesona hingga terus berusaha mencuri-curi pandang, melirik dirinya selama kurang lebih setengah jam. Ah, saya jadi membayangkan, andai saja dia tampil dengan gaya yang lebih perlente, bisa-bisa saya malah berharap lebih dan coba-coba ingin mengajaknya nonton bioskop, makan malam bersama di Sushi Groove, mendatangi kosnya, menelpon setiap waktu, atau hanya sekadar menggendongnya ke mana-mana. Tapi ya sudahlah. Saya tidak mau berkhayal terlalu muluk. Khawatir. Takut Si Dia yang sedang menunggu di rumah jadi bisa marah-marah. 🙂

Saat itu Jumat malam, tanggal 26 Februari 2010. Jarum jam menunjuk di sekitar angka 9. Hari Eko Purwanto (Harkop), seorang sahabat yang menjadi penanggung jawab acara, tampak sibuk bukan kepalang. Telepon genggamnya berdering terus. Ia memang tengah bersiaga menunggu kedatangan rombongan yang lain. Tapi tugasnya tak cukup sampai di situ. Harkop merasa mesti menjamu teman-teman yang sudah datang dengan layak. Maka, karpet pun digelarnya di teras gedung utama. Begitu juga dengan beberapa cangkir kopi. Hebatnya lagi, ia juga sudah menyediakan salah satu mess di gedung itu untuk dijadikan penginapan bagi teman-teman luar kota. Usut punya usut, ternyata Harkop adalah seorang karyawan di salah satu divisi dalam organisasi yang saat ini kepemimpinannya dipegang oleh Din Syamsudin itu. Wajar jika ia memiliki akses yang cukup lapang untuk menggunakan sedikit fasilitas kantornya. Bahkan, untuk mobilisasi kami semua, Harkop pun tak segan-segan memakai salah satu mobil dinas berwarna jingga mentereng. Mantap!

Untunglah dalam menjalankan tugas sebagai penanggung jawab acara, Harkop tidak sendiri. Ia turut dibantu oleh Imam Yuli Marsanto, Latifah Zulaikha, Neimah, dan Een Wahyu Riscawati (si mata indah itu). Setidaknya, beban yang harus ditanggung Harkop jadi berkurang. Dan saya sama sekali tidak merasa kecewa dengan segala macam urusan yang mereka kerjakan. Mereka berhasil menjamu kami semua dengan sederhana, namun mengesankan.

Akhirnya, teman-teman lain yang sedari tadi ditunggu mulai berdatangan menjelang tengah malam. Rahmat “JP” Hidayat dengan pasangannya Aliq Fuadah (eks ketua OPPPMIA Putri periode 99-00), Hari “Kasino” Athourrahman, dan Zaqiah Mambaul Hikmah (ketua 2 angkatan putri legendaris yang menempati urutan absen paling akhir dalam daftar absen kelas 3A Madrasah Tsanawiyah) memasuki pelataran gedung dengan sebuah sedan tua plat AB bermodifikasi. Isa Surya Negara menyusul kemudian. Dirasa masih kurang meriah, kami menelpon beberapa rekan alumni lain yang sudah berdomisili di Jakarta untuk meramaikan acara penyambutan malam hari itu. Tidak lama, Ika Lufitasari (Lupe), Nurina Nafilla (Ila), dan Purbani Kumasafi tiba. Obrolan demi obrolan bergulir semakin panas. Maksiat berjamaah pun dimulai!

***

Di tengah Taman Menteng yang remang-remang dan semakin gelap saat lewat tengah malam, memang agak sulit bagi kami untuk menentukan kegiatan macam apa yang asyik dilakukan. Suasana temaram yang dikelilingi lampu-lampu taman berwarna kuning, rumput-rumput yang terhampar, dan bangku-bangku di sudut gelap menurut saya lebih pas bila dimanfaatkan oleh pasangan muda yang tengah dimabuk cinta. Bukan kami. Yang saat itu lebih terpengaruh oleh cerita dan gosip seputar asmara masa lalu.

Setelah berjalan-jalan tanpa tujuan selama beberapa menit, kami pun duduk berderet di atas konblok. Tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Untuk sementara, saya hanya mendengarkan celoteh Lupe dengan Brutu dan Iqbal yang sesekali diiringi derai tawa terbahak-bahak kami semua. Sebenarnya, saya sendiri tidak terlalu paham tentang tema pembicaraan mereka. Hanya saja, gaya berbicara mereka satu sama lain yang begitu njawani dan lugu membuat saya jadi benar-benar tak kuasa menahan tawa. Di tengah-tengah obrolan yang begitu ramai, kawan kami yang lain, Nur Sya’bani Arief (Bantenk) datang bergabung.

Jengah berurusan dengan gosip-gosip, kami mulai coba memainkan sebuah game. Brutu mengusulkan agar kami bermain Truth or Dare saja. Sebuah permainan di mana kejujuran, keterbukaan, dan sedikit aib ditelanjangi untuk kesenangan. Tapi sepertinya, permainan itu tidak berjalan terlalu mulus. Misalnya seperti saat Een ditanyai tentang jumlah teman-teman pria angkatan kami yang berusaha mendekati dan menyatakan cintanya. Kami betul-betul antusias untuk mendengarkan jawaban Een. Namun, Si Mungil Cantik itu hanya diam seribu bahasa. Dan kami pun harus puas dengan rasa penasaran yang terus berkecamuk dalam dada. Menyebalkan!

Mungkin, kami memang bukan orang Barat yang belum terlalu bisa menerima keterbukaan. Yang belum terlalu bisa bicara apa adanya. Yang terkadang masih malu untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Bagi saya, itu tidaklah mengapa. Di sisi lain, saya juga setuju dengan pendapat seseorang yang mengatakan bahwa wanita biarlah menjadi wanita. Yang tetap terbungkus dengan berjuta rahasianya. Karena, rahasia-rahasia itulah yang membuat para lelaki penasaran. Terus mengejar, mencari tahu, apa yang tersembunyi di balik senyum manis bibirnya. Mungkin, itulah alasan Een tetap bersikeras tidak mau berkomentar apa-apa menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang Brutu lontarkan. Dan saya cukup memahaminya.

Bosan di Taman Menteng, kami pun beranjak menuju tempat tongkrongan lain: Roti Bakar Eddy. Waktu itu, langit menunjukkan bahwa malam sudah berganti menjadi dini hari. Di tempat ini mulai jelas terlihat bahwa tenaga kami semua mulai terkuras.

Sekitar pukul setengah tiga, kami pun membubarkan diri. Sebagian besar teman-teman pria kembali menuju Pusat Dakwah Muhammadiyah. Saya sendiri pulang ke rumah. Sementara yang wanita menuju ke rumah Ila, untuk bermalam. Mempersiapkan stamina untuk acara inti yang akan berlangsung pada keesokan hari.

***
(bersambung)

 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2010 in Uncategorized

 

CAPEKKKKKKKKKKKKKKKK

 
Leave a comment

Posted by on 9 March 2010 in Uncategorized