RSS

Ada Cinta di Setiap Binar Tatap Matanya 2

10 Mar
Oleh: Farid Anggara Soeratman
Memory Reuni MTs Assalaam 1998 Tanggal 27-28 Februari 2010

Sabtu, 27 Februari.

Saya baru sampai lagi ke gedung Muhammadiyah pukul 11.30. Saat memasuki aula gedung, betapa terkejutnya saya begitu menyadari teman-teman lama yang selama ini sudah tidak diketahui lagi di mana rimbanya muncul di hadapan saya dengan wajah yang berseri-seri. Andi Rizqi, Wahyudi, Britanto Dani Wicaksono, Dudi Hartaka, Insan Wibowo, Eko Wibisono, Alwan Rasyid, dan Rinna Sabrina hadir dengan penampilan-penampilan”baru

” yang membuat pangling. Jauh lebih dewasa.😛

Tidak ketinggalan juga sahabat-sahabat saya yang hingga hari ini masih sering berkomunikasi lewat forum arisan seperti Melati Antartika, Nunik Nurhidayati, Swastika Asti, Andari Nur Rochmani (semalam ia bersama kami di gedung ini, tapi tidak ikut jalan-jalan ke Taman Menteng), Mellya Askarini, Marlia Idfi Kalsum, Enda Puspitasari, dan Dayu Purnama. Sebagian mereka hadir dengan membawa momongannya masing-masing. Tapi tunggu dulu! Rupanya ada dua wajah dan nama yang belum saya kenal. Mereka adalah Eka Citra dan Sari Puspita Harmani. Saya pun bersalaman dengan mereka berdua, sekaligus memperkenalkan diri.

“Hai. Nama saya Farre. Alias Fangsur. Salam kenal ya, Bu.”

Tidak lama setelah ritual sapa-menyapa, kami bergegas masuk ke dalam mobil. Ada sekitar 5 sampai 6 mobil di pelataran parkir itu. Dari kantor Muhammadiyah, kami menuju rumah makan Bandar Djakarta, di bilangan Ancol. Sebab, memang di sanalah resminya acara Reuni Madrasah Tsanawiyah Assalaam Angkatan ’98 diadakan. Bagi saya, di tengah cuaca terik dan perut kelaparan, berkumpul di Bandar Djakarta yang terkenal elit dengan pemandangan indah tepi pantai memang jadi sebuah pilihan yang tepat. Ah, jadi makin cinta saja saya dengan para panitianya. Sayangnya, itu semua tidak gratis. Kami harus membayar uang sejumlah Rp 60.000 supaya bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini. Namun rasanya, semua biaya yang mesti dikeluarkan itu cukup setimpal dengan segala macam kesenangan yang kami dapat. Good foods, good beverages, and long-lasting relationships.

Setibanya di Bandar Djakarta, kami langsung menuju meja yang sudah disediakan dan dipesan oleh panitia jauh-jauh hari. Posisi kami benar-benar sangat nyaman. Tepat berada di batas pinggir air laut. Semilir angin, pemandangan perahu bebek yang mondar-mandir di tengah laut, dan akuarium-akuarium ikan laut adalah beberapa alasan yang menjadikan kami semua merasa betah untuk sedikit berlama-lama di sana.

Di atas 6 buah meja panjang yang masing-masingnya bisa digunakan untuk 10 orang, beraneka ragam makanan laut yang begitu menggiurkan telah tersedia. Tapi saya tidak makan terlalu banyak. Karena takut berat badan akan semakin bertambah dan mengurangi kadar ketampanan saya yang pada dasarnya sudah tidak begitu tampan ini.

Saya lebih memilih mondar-mandir menyapa teman-teman lain yang ternyata sudah sampai di Bandar Djakarta lebih dulu dari rombongan kami yang berangkat dari Menteng. Arizal Firmansyah, Lukman Mamen Hakim, Fikih Agung, dan Chudori Akbar termasuk beberapa di antaranya. Begitu juga dengan Wahyu Hidayat. Pria tampan berkacamata bertubuh jangkung ini masih tetap kelihatan kalem seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Dan rupanya, pembawaan dia yang seperti itu menarik perhatian seseorang dari rombongan wanita: Nurina Nafilla (Ila). Sorot mata Ila yang tajam seperti tak mau lepas dari Wahyu. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita muda bertubuh bohai itu. Semacam tersirat rasa penasaran. Tapi, terserahlah. Saya tidak mau berspekulasi terlalu jauh perihal kejadian ini. Biarkan saja semua terjadi apa adanya, secara alamiah, dan naluriah. Sebagaimana yang terjadi pada manusia dewasa, pada umumnya.

Dan, hei, ternyata ada Marieska Dianing Prahasari juga di sana. Sahabat lama yang sering saya jadikan tempat “menumpang” makan bila merasa lapar, saat sedang bermain-main di Jogja di sekitar tahun 2000-an. Maklum, ketika saya terus melanjutkan jenjang SLTA di Sukoharjo, Marieska sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di Kota Pelajar. Ia bersekolah di SMU Muhammadiyah 1. Marieska pulalah yang sering bertindak sebagai pemandu wisata ketika saya ingin mengunjungi teman-teman lain yang bersekolah di Jogja. Ah, masa lalu.

Selain Marieska, wajah-wajah lama yang pernah singgah dalam memori saya pun turut hadir. Queenila Savina, Ratna Dewi, Fadillah Nurusa’adah, Lela Rosaningtyas, Melvinasari Nadjib, Kiswantini, dan tentunya si besar MR Wibisono (Bison) yang datang bersama istri dan bayi mungilnya. Duh, lucunya. Melihat pemandangan semacam itu, rasanya saya juga ingin cepat-cepat punya bayi, untuk ditimang-timang, dicium-cium, dan digendong ke mana-mana. Pantaskah saya? Rasa-rasanya belum. Sebab, di siang terik yang berangin itu, saya malah sempat-sempatnya membuat putri kecil dari seorang sahabat saya, Nunik, menangis.

Ampun!

***

Rambut saya rontok tiga helai. Mungkin disebabkan umur. Mungkin juga disebabkan riwayat masa lalu saya yang seringkali mengubah tatanan rambut sesuka hati, tanpa diimbangi perawatan yang memadai. Tapi ada satu faktor lain yang menurut saya lebih mendekati kebenaran: gitar akustik yang sedang ada di kedua tangan ini, sulit sekali disetem. Meningkatkan potensi stres, membuat dahi saya sampai berkeringat, meskipun angin berhembus begitu kencang. Dan yang paling mengesalkan, rambut saya yang tidak lagi tebal seperti dulu ini, yang sejak setahun lalu saya rawat dua minggu sekali, sampai jadi berkurang tiga helai. Sial.

“Gimana, Sur? Bisa setem gak?” tanya Eko Wibisono si disc jockey (DJ) bersuara merdu yang duduk di samping saya.

“Gak bisa. Ini gitar udah amburadul banget. Tapi, ya udah. Kita manfaatin apa yang ada aja.”

“Maksudnya?”

“Ya, kalo nih gitar rada fales-fales dikit, cuekin aja, hehe. Kan lo yang bakal nyanyi ini.”

“Ih, apaan? Ogah ah. Elo aja!” air muka Eko langsung berubah.

“Yeeee, gimana sih. Katanya mau ikutan audisi vokalis Kerispatih. Masa’ disuruh nyanyi di mari doang kagak mau, sih? Nyanyi ya! Itung-itung latihan.”

“Ogah.”

“Hayolah. Lagu yang Cinta Putih. Gue iringin pake gitar deh.”

“Pokoknya, ogah!” Eko merengut dan saya pun hanya bisa tertawa.

“Wakakakakakak!”

Hari sudah menjelang sore ketika saya dan Eko duduk di bawah salah satu pohon nyiur yang berjejer di sepanjang pantai. Di hadapan kami, ada tenda darurat sewaan yang telah tersusun seadanya. Tenda itu hanya berupa kain besar berwarna merah biru yang dipasang membentang, setinggi satu setengah meter dari permukaan tanah. Tonggak-tonggak dari besi dipancangkan di berbagai sudut-sudut kain sebagai pondasi. Tikar-tikar lusuh pun bertebaran di bawahnya, berfungsi sebagai alas duduk bagi kami semua, agar tidak langsung bersentuhan dengan pasir pantai dan mengotori pakaian.

Usai makan siang dan bercengkerama di Bandar Djakarta tadi, rombongan kami segera pindah tempat, menyusuri jalan-jalan lurus di Ancol, menuju Pantai Karnaval. Kami berhenti setelah melewati Backstage dan Mc Donald, dekat sebuah gubug reyot berwarna hijau-merah. Tak begitu jauh dari gubug itu, tenda kami telah menunggu. Siap dipakai. Dan di sanalah kami berada saat ini. Untuk melanjutkan rangkaian acara reuni.

“Setelah belasan tahun tidak bertemu, akhirnya kita bisa berjumpa lagi di tempat ini.” Suara tegas Alwan Rasyid –mantan ketua seksi kesenian– yang memberikan sambutan atas nama pengurus angkatan, sejenak mengalihkan perhatian saya dari si gitar tua. Alwan, sang jawara tartil Quran. Pria yang sekarang bekerja sebagai karyawan perusahaan di Cibitung itu sudah menjadi jurnalis sejak SD, bahkan sebelum saya tahu apapun tentang urusan tulis menulis. Pria cerdas, diplomatis, bijaksana, dan berkualitas tinggi. Hanya satu hal yang sangat saya sesalkan tentang dirinya: bidang yang ditekuninya kini sangat jauh dari apa yang pernah saya bayangkan.

Ngomong-ngomong, sambutan Alwan merupakan sambutan yang kesekian dalam acara inti reuni yang sedang berjalan ini. Kalau tidak salah, sementara Harkop dan Neimah menjadi pemandu acara, Een sebagai perwakilan panitia dan Zaqiah sebagai perwakilan ketua angkatan putri juga sempat maju bergantian memberikan sambutan. Setelah ketua-ketua itu, beberapa teman perwakilan daerah (konsul) diminta maju untuk memberikan kesan dan pesan. Saya tidak ingat siapa-siapa saja. Saya memang tidak terlalu fokus, karena terlampau sibuk mengurusi gitar tua. Bukan saya tidak menghormati berlangsungnya acara. Tapi memang karena saya dibebani tanggung jawab sebagai tukang ngamen di penghujung acara nanti. Dan terus terang, supaya tanggung jawab bisa berjalan dengan lancar, saya sepenuhnya benar-benar bergantung pada gitar yang sekarang sedang disetem ini.

Selepas sambutan-sambutan, sebagian teman-teman yang membawa momongan mulai meninggalkan tempat. Mungkin karena hari sudah terlampau sore. Mungkin juga karena angin laut yang mulai berhembus semakin kencang tampaknya tidak terlalu bagus untuk kesehatan balita-balita mereka.

Lalu, acara pun berlanjut dengan sesi bercerita tentang kehidupan masing-masing. Pada sesi ini, sebenarnya masing-masing kami bisa bicara buka-bukaan dan berbagi segala hal yang berkaitan dengan karir. Sebuah ajang yang sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan investasi. Baik itu untuk urusan investasi asmara maupun bisnis. Tapi ternyata acara berjalan tidak terlalu mulus. Sebagian dari kami ada yang ogah-ogahan. Lebih cenderung mengobrol hanya dengan teman-teman yang dianggap dekat saja, bahkan meninggalkan tenda untuk berjalan-jalan seenaknya sendiri. Sebuah perilaku yang sama sekali tidak dewasa. Dan melihat usia yang tidak lagi bisa dibilang remaja, semestinya mereka semua merasa malu!

Mungkin inilah karakter kami, orang Indonesia, yang sama sekali jauh dari tabiat Barat. Dan bagi kami, keterbukaan –meski kadang memiliki dampak positif– masih jadi satu hal yang terlalu tabu untuk dibicarakan.

***

Pukul 17.00, sinar matahari tidak lagi seterik beberapa jam sebelumnya. Kami makin merapat ke pinggir laut untuk berfoto-foto. Berdiri di atas beton pembatas pasir pantai dan karang-karang laut, sambil menikmati segarnya udara senja. Sambil berharap-harap dapat kesempatan untuk melihat sunset.

Ketika sedang asyik berfoto-foto, kami dikejutkan kedatangan Arief Budiman Zubaedi alias Arbud, sang ketua angkatan. Ia baru bisa datang sore itu dikarenakan ada urusan kantor yang masih harus dikerjakan pada siang harinya. Arbud datang dengan pakaian necis perlambang profesionalitas. Perlambang keeksekutifan muda. Perlambang keterikatan dan –tentunya– perbudakan. Sepatunya sangat mengilap. Dan saya harus mengaku, bahwa saya sampai terkagum-kagum dengan penampilannya yang seperti itu. Rapijali. Ganteng. Membuatnya terlihat seperti orang yang berdompet tebal.

Arbud punya masa lalu sebagai pemain bass kelas menengah. Ia seorang pemuda yang cerdas, meskipun seringkali terjebak dalam pemikiran-pemikiran radikal dan labirin konsep tak berujung. Dan hal tersebut justru membuatnya jalan di tempat. Selalu berpikir, berpikir, dan berpikir, tanpa bertindak apa-apa. Sangat mirip dengan diri saya. Namun bagaimanapun, saya sangat bangga bisa bersahabat dengannya. Bisa sempat membentuk band. Bisa tinggal bersama dengannya selama beberapa waktu, dan saling mendalami karakter satu sama lain. Dialah Arbud si ketua angkatan. Cucu Adam a.s. yang pertama kali mengubah nama panggilan saya dari Farid atau Fangsur, menjadi Farre.

Basa-basi yang dramatis dengan Arbud tidak berlangsung begitu lama. Sang gitar tua pun mulai beraksi, mengalunkan suaranya yang sumbang. Mengiringi kami bernyanyi banyak lagu, mulai dari Koes Plus sampai Didi Kempot, dari Iwan Fals sampai Sheila on 7. Sore itu, sepertinya memang tidak ada suara yang tidak sumbang. Termasuk suara saya dan dua puluhan kawan yang tersisa, semua sumbang. Satu-satunya teman yang saya yakini memilki suara merdu, Eko Wibisono, justru telah lebih dulu meninggalkan kami semua. Pulang ke rumahnya di Bekasi sana. Karena tidak mampu menahan syahwat, katanya.

***

Lupe muntah-muntah! Mukanya pucat dan matanya sayu. Dari tubuhnya keluar bulir-bulir keringat dingin. Tapi yang mengherankan, ribuan kata demi kata tetap meluncur dari kedua bibirnya. Ia tetap bicara dan terus bicara, hingga membuat kami semua tidak henti-hentinya terpingkal.

Kejadian itu bermula tidak lama setelah kami semua berfoto di tepi pantai. Ila menyewa sebuah perahu, agar kami bisa berjalan-jalan menelusuri tengah laut. Tapi rupanya, tidak semua orang berkeinginan sama. Ada yang mengaku mabuk laut. Dan ada juga yang paranoid, takut tenggelam. Tapi saya yakin, dua alasan tadi sama sekali tidak pas bila diutarakan sahabat saya yang bernama Septembriano (Rino). Karena saya tahu betul, Rino bisa berenang. Satu-satunya alasan Rino tidak beranjak dari pantai hanya satu, karena ia sibuk bercanda, kitik-kitikan, dengan Ata kekasih barunya, dokter cintanya. Fenomena itu cukup membuat saya berbahagia. Rino yang terkenal riang, akhirnya beranjak dewasa.

Perahu pun mulai bergerak pelan, menjauh dari tepi pantai, setelah tak ada lagi teman-teman yang mau bergabung. Rino melambaikan tangan dari jauh sambil memeluk mesra boneka kecil Manggarai-nya. Saya, Arbud, Brutu, Kurniawan Dongki Ari, Zaqiah, Rinna, Eka, Latifah, Neimah, Ila, Dayu, dan Lupe sebagai segelintir orang yang turut bergabung sebagai penumpang, membalas lambaian itu sampai tubuh Rino terlihat makin mengecil dimakan oleh jarak dan ruang. Dan di atas perahu, kami semua menyanyikan lagu-lagu Ahmad Dhani diiringi dengan gitar tua yang seolah tak pernah lepas dari kedua tangan saya. Penuh suka cita. Bernyanyi sambil menelusuri bagian perairan Laut Jawa yang begitu kotor dan penuh dengan sampah.

Kami berputar-putar dengan perahu selama setengah jam. Sebuah perjalanan yang terlalu singkat, karena tiba-tiba perahu ini sudah merapat ke pantai lagi. Benar-benar tak terasa, setidaknya itu menurut saya. Mungkin tidak demikian bagi yang lain. Misalnya Lupe. Sebab setibanya kami semua di pantai, wajah Lupe pucat pasi. Dia mabuk laut. Dan pasrah menerima nasib buruk, makanan mahal Bandar Djakarta yang tadi siang disantapnya, harus keluar lagi, didepak dari dalam perut, keluar lewat pintu depan. Lupe tampak lemas. Sialnya, di tengah keadaannya yang lemas itu, Lupe pun masih disibukkan dengan satu urusan lagi: mencari sendalnya yang hilang. Mungkin karena ia lupa menaruh di mana, atau mungkin karena disembunyikan oleh siapa. Untunglah, cerita tentang hilangnya sendal Lupe berakhir dengan happy ending. Sendal itu bertemu kembali dengan pemiliknya.

***

Matahari akhirnya terbenam. Kami pun berjalan bersama-sama menuju lahan parkir untuk masuk kembali ke dalam mobil. Dan seiring langit yang semakin gelap, mobil-mobil kami pun melesat semakin cepat, membelah jalan-jalan Ibu Kota yang kala itu terlihat lengang. Kembali menuju gedung Muhammadiyah di Menteng, ataupun rumah Ila di Mampang. Untuk bersih-bersih, maupun sekadar beristirahat.

Sampai di sini, bibir kami masih tak henti-hentinya berbicara menanyakan kabar tentang satu sama lain. Rasanya, perpisahan setelah berjumpa kembali benar-benar menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, bila tidak berpisah, itu tidaklah mungkin. Karena masing-masing kami sudah memiliki kehidupan dan harus menjalani takdirnya sendiri-sendiri.

Jam 7 malam. Kami masih mengupayakan agar ada kegiatan yang lain. Agar perpisahan yang tidak diinginkan itu tidak segera terjadi. Agar segala cerita indah ini tidak cepat berlalu.

Dan Tuhan rupanya mendengar!

***
(bersambung)

 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: