RSS

Ada Cinta di Setiap Binar Tatap Matanya 3 (Tamat)

10 Mar
Oleh: Farid Anggara Soeratman
Memory Reuni MTs Assalaam 1998 Tanggal 27-28 Februari 2010

Sebuah mobil sedan tua berplat AB meluncur cepat. Melintasi jalan lebar sisa landasan terbang internasional pertama di Indonesia yang dibangun sejak masa pemerintahan Belanda, di sekitar PRJ Kemayoran, yang kini lebih dikenal dengan Jalan Benyamin Suaeb. Sedan itu dimodifikasi ceper. Tapi sayang, per-per kerasnya yang kurang perawatan membuat seluruh penumpang mesti tergoncang hebat ketika melewati lubang dan polisi-polisi tidur.

“Aku mau cari tansu. Ketan susu. Kowe ngerti tempate gak, Sur?” tanya JP yang duduk di samping kursi kemudi.

“Ha? Gue gak pernah denger itu makanan,” jawab saya.

“Katanya di sekitar Kemayoran sini, kok,” lanjut JP sambil mengawasi jalan. “Aku sering ke sana. Tapi gak pernah benar-benar hafalin jalan. Rasa makanannya dahsyat, loh.”

Di jok belakang mobil, saya terjepit di antara dua sahabat yang bertubuh tidak lagi langsing. Alwan di sebelah kanan dan Isa di sebelah kiri. Sementara Kasino duduk di belakang kemudi. Perut kami semua keroncongan karena belum diisi apapun sejak makan di Bandar Djakarta siang tadi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sembilan malam. Dan kami masih berkutat di tengah Kemayoran, untuk mencari warung tansu yang menurut JP dahsyat.

Setelah tanya sana-sini, kami pun mulai mendapat sedikit titik terang. Warung itu ternyata berada di Jalan Haji Ung, dekat pool Damri. Kasino segera menekan gas lebih dalam. Memutar balik di Utan Panjang, melewati pasar tumpah, dan mengambil jalur kiri, terus menelusuri Jalan Haji Ung yang panjangnya kurang lebih satu kilometer.

Di sebelah kiri jalan sebelum lampu merah, kami melihat sebuah warung yang ramai pengunjung. Sebuah tempat makan yang sangat jauh dari kesan elit dan higienis. Luas warung itu hanya sekitar 2×3 meter persegi, dibangun dari bilik bambu dan bongkahan kayu. Sangat tidak menarik. Tapi siapa sangka, ternyata memang tempat itulah yang dimaksud JP. Sebuah tempat makan yang nyatanya sudah begitu dikenal oleh masyarakat di sekitar Kemayoran, Jakarta Utara.

Di tengah udara malam yang gerah, kami berlima turun dari mobil dan menghampiri warung, memesan 5 ketan susu dan teh manis hangat, kemudian duduk di bangku-bangku panjang tanpa meja yang tersebar berantakan di sekelilingnya. Tidak lama, ketan susu pesanan kami pun tersaji. Apa yang dimaksud JP sebagai ketan susu memang benar-benar ketan putih biasa saja. Ketan putih rebus yang ditaburi parutan kelapa di atasnya, dan disiram lagi dengan susu kental manis putih. Gorengan tempe pun turut disajikan. Katanya biasa dikonsumsi sebagai lauk. Ada-ada saja.

Setelah semuanya tersaji, kami mulai mencicipi hidangan itu. Tentu dimulai dari ketan susunya. Kami pikir, kombinasi ketan, susu, dan gorengan akan terasa biasa saja. Saya sudah cenderung memandang sajian itu dengan sebelah mata. Tapi ternyata, apa yang saya duga sebelumnya adalah sebuah kesalahan besar. Benar apa kata JP. Tansu benar-benar dahsyat! Pas ketannya. Pas juga susunya.

Kami pun makan dengan lahap sampai berkeringat. Setelah puas, kami menuju Mampang, ke rumah Ila. Untuk bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Tanpa sempat mandi. Dengan pakaian yang sudah penuh dengan noda kristalisasi keringat.

***

Tepat tengah malam. Kalender di ponsel saya menunjukkan bahwa hari sudah berganti, menjadi Minggu, 28 Februari 2010. Sekarang kami berada di pelataran parkir Tamani Kafe, di bilangan Melawai. Menurut Ila, di lantai dua gedung ini ada Inul Vista, tempat karaoke yang biasa ia manfaatkan untuk membuang jenuh sehabis bekerja.

Kami naik ke lantai dua menggunakan lift. Tapi rupanya, menurut pegawai yang bertugas, kami masih harus naik tangga satu tingkat lagi. Karena ruang karaoke yang telah disiapkan terletak di lantai tiga.

Di lantai tiga, kami berjalan mengikuti lorong utama, menuju ke pintu yang terletak paling pojok, dipimpin Dayu yang berjalan paling depan. Begitu pintu terbuka, suara dentuman musik yang kencang serta merta menyapa telinga kami. Suara sumbang yang mengikuti alur irama lagu pun terdengar di antara iringan musik. Ternyata sebagian teman-teman telah ada yang sampai lebih dulu. Mereka sudah menyanyi. Saya sendiri tidak ingat lagu apa yang mereka nyanyikan. Lupa juga siapa yang saat itu sedang bernyanyi, sepertinya Fikih Agung. Yang jelas, saya dan beberapa teman yang baru ikut masuk pun tertular euforia. Dayu sendiri sampai berteriak kegirangan, “Yeeeeaaaaaah!” Dan mulai ikut menarik pita suara, bersama kurang lebih 25-an teman yang lain.

Ruang karaoke tempat kami berpesta ini terbilang cukup luas. Berbentuk kubus dengan panjang lebar berkisar 10×8 meter. Memang didisain sebagai ruang pesta kecil rupanya, dengan lampu-lampu kuning yang bergantung di langit-langit dan di pojok dinding. Di ujung ruang, sofa-sofa yang nyaman tampak berderet rapat, bersisian dengan dinding, menghadap monitor layar datar selebar 29 inci. Jarak antara monitor dengan sofa terbilang cukup lapang, dan cocok bila dijadikan lantai dansa. Sebuah ruangan yang penuh pencitraan hedonisme. Dan saya sangat menikmatinya.

Saya memilih tempat duduk di tengah gadis-gadis cantik: Zaqiah, Een, dan Neimah. Sengaja. Supaya bisa sedikit tebar pesona, ataupun hanya sekadar memandangi wajah mereka. Semacam ritual kecil-kecilan. Karena kata orang, berdekatan dengan perawan-perawan cantik itu bisa membuat seorang pria tetap tampak awet muda. Saya tidak ingat siapa yang pernah berkata demikian. Tapi saya menurut saja. Toh tidak ada ruginya. Dan selanjutnya, di tengah wanita-wanita itu saya duduk santai, bersandar di sofa. Kaki saya pun tak henti-hentinya bergoyang, seiring hentakan irama lagu demi lagu.

Sedang asyik-asyiknya bergoyang di sofa dengan dikelilingi perempuan cantik, tiba-tiba musik berhenti. Sedikit masalah terjadi karena teman-teman masih belum paham benar cara mengoperasikan remote karaoke player. Britanto, Lupe, dan Iqbal yang kebetulan posisinya berada paling dekat dengan remote, lantas kebingungan. Tidak terlalu tahu harus diapakan remote itu agar player mau terus memutar lagu-lagu yang sebagian telah dimasukkan ke dalam playlist. Dongki, Kasino, dan Brutu cepat-cepat ikut nimbrung. Demikian juga Fikih dan Dayu. Mereka saling bahu-membahu, berebut remote, agar kebisuan tersebut dapat segera terselesaikan. Lewat kerjasama kompak yang agak berlebihan itu, akhirnya masalah pun terpecahkan. Lagu kembali mengalun.

“Minuman keras!” teriak Dongki dan Brutu sambil mengikuti teks di layar monitor.

“Miras!” sahut teman-teman serempak.

“Apapun namamu…,” Dongki dan Brutu makin terbawa, menghayati lagu ngetop milik Rhoma Irama berjudul Mirasantika itu. “Tak akan kureguk lagi, dan tak akan kuminum lagi, walau setetes.”

“Setetes!!!” balas yang lain lagi dengan disambut derai tawa semua orang.

Kami menyanyi saling bergantian mengingat jumlah mikrofon yang hanya dua buah. Tidak ada rasa malu dan sungkan. Karena memang tidak ada satu pun di antara kami yang memiliki suara emas. Suara perak pun sepertinya langka. Kebanyakan, suara kami termasuk dalam kategori suara perunggu. Jadi, ketika ada teman yang ternyata kemampuan suaranya masuk dalam kategori suara timah dan tembaga, ya, kami semua asyik-asyik saja. Tidak ada hasrat saling mencela. Tidak ada yang merasa rendah diri. Semua hanya ingin bersenang-senang!

Supaya suasana makin panas, di beberapa lagu, kami coba untuk berdiri. Bahkan ketika dirasa ada lagu yang seru untuk berjoget, kami pun tak segan-segan maju menuju lantai dansa. Membentuk barisan, berangkulan, dan menyusun formasi apapun sesuka hati. Tanpa ada beban. Tanpa ada kekhawatiran. Sepanjang masih ada waktu, kami terus menari, menggila. Sambil mengangkat gelas-gelas minuman, bersulang, di tengah aroma tajam asap rokok bercampur keringat yang tercium dari kemeja, tubuh, serta mulut para lelaki.

Di tengah cahaya temaram lampu ruangan itu, kami terus tertawa, larut dalam suasana, seolah akan hidup untuk selama-lamanya.

***

Saya tidak terlalu ingat sudah menyanyikan berapa lagu dalam ruang itu. Sahabat Jadi Cinta milik Zigaz dan Selir Hati yang populer dinyanyikan TRIAD sepertinya termasuk di antara lagu-lagu yang saya bawakan. Saya tidak pandai menyanyi. Makanya saya sangat bersyukur ketika menyadari bahwa Ila terus mem-backup, menyertai saya, sepanjang menyanyikan lagu.

Ngomong-ngomong, saya juga sempat berduet dengan Latifah, membawakan lagu dangdut lawas berjudul Dokter Cinta. Sebenarnya, Latifah berniat duet dengan Dayu. Berhubung saya tak tahan ingin menyanyikan lagu itu, terpaksa saya rebut saja mikrofon dari tangan Dayu. Kemudian, saya dan Latifah maju ke muka ruang, bernyanyi dan menari. Suara memang pas-pasan. Tapi kami sangat begitu menjiwai peran masing-masing. Berakting layaknya sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Nilai yang tertera di layar juga tidak seberapa. Tapi rasa puas yang kami berdua rasakan, sungguh luar biasa.

Para penanggung jawab acara yang lain pun tidak ketinggalan. Dan saya cukup terkaget-kaget. Tidak pernah menyangka kalau ternyata Harkop dan Imam Yuli Marsanto (Butong) termasuk pria-pria yang suka memegang mikrofon. Mereka bernyanyi dengan baik, cukup banyak, dan penuh rasa percaya diri. Mengejutkan!

Een, si mungil cantik yang bermata indah itu, pada kesempatan kali ini terlihat agak malu-malu. Ia hanya menyanyi sekali, dibantu Britanto dari kejauhan, menyanyikan lagu Linkin Park yang jadi salah satu soundtrack dalam film Twilight: Leave Out All the Rest. Mereka bernyanyi cukup aman. Meskipun suara yang dikeluarkan sama sekali tak bertenaga, tapi tidak terdengar ada yang sumbang.

Agak berbeda dengan Neimah. Gadis bermata bulat ini tidak terlalu pandai bernyanyi. Tapi saya suka dengan sikap polos dan cerianya yang tidak pernah menolak bila ditawari mikrofon. Neimah sempat menyanyikan lagu Cinta Gila milik Ungu, berganti-gantian mikrofon dengan saya. Di satu sesi, ia juga menyanyikan lagu Lembayung Bali yang dipopulerkan Saras Dewi, sendirian. Dayu hanya membantu dengan mikrofon satunya sesekali. Dan ketika Neimah bernyanyi, sampai pertengahan lagu, kami semua mulai merangkul satu sama lain, membentuk lingkaran, dan menyenandungkan syair lagu sama seperti yang Neimah nyanyikan.

Penampilan Neimah –sebagaimana juga sebagian besar dari kami– jauh dari kata sempurna. Satu-satunya yang sempurna hanyalah rasa cinta yang terpancar lewat mata kami, saat memandang satu sama lain. Dan perasaan itulah yang menyulut sebuah kesadaran untuk saling melengkapi. Memberi motivasi, mempertebal rasa percaya diri, dan menambal kekurangan. Sehingga ketika kami semua berdiri berangkulan, yang Neimah rasakan hanyalah perasaan nyaman. Seperti berada di dalam sebuah keluarga besar yang tak kan pernah berhenti menyayanginya, sampai kapan pun.

Fajar Hanif Wirawan juga menunjukkan sedikit kebolehan. Ia menyanyikan lagu ST12 berjudul Saat Terakhir.

“Anggap saja ini sebagai persembahan dari saya dan teman-teman asal Jawa Timur yang tidak semuanya bisa hadir dalam acara ini,” ujar pria yang menyelesaikan program sarjananya di jurusan psikologi Universitas Muhammadiyah Malang itu sambil sedikit berdiplomasi. Dan saat menyanyi, ia terlihat sangat menikmatinya.

Rata-rata kami memang memilih lagu yang gampang dinyanyikan. Berbeda dengan Rino. Entah karena salah pilih atau bagaimana, ia justru memilih lagu yang terbilang sulit.

“Kaaaaarena akuuuuu. Sang Pangeran Cintaaaaa, phuaah! Uhuk, uhuk, uhuk!” Rino terbatuk kecil. “Aduh, Sur. Tinggi banget nih lagu.”

“Lagian. Lo pikir diri lo Once sih!” Saya hanya tertawa kecil. Kasihan juga melihat wajah Rino yang mendadak merah itu.

Menjelang pukul setengah tiga, kami semua berjoget, memadati lantai dansa dengan diiringi lagu Kucing Garong. Kasino sempat menyanyikan sederet kata-kata yang memancing tawa. Nada intro pada lagu itu diplesetkan menjadi kalimat “pacaran, ora kawin ora enak” berkali-kali. Lagu ini adalah lagu penutup dari pesta meriah dalam ballroom mini tersebut. Meskipun terasa agak tanggung –karena lagu itu ternyata berhenti di tengah-tengah– setidaknya kami semua cukup puas. Karena cerita tentang kebersamaan kami tidak berakhir hanya sampai di Ancol.

***

Adzan subuh hampir berkumandang ketika kami terdampar di halaman parkir Plaza Sarinah, Thamrin. Tujuan kami ke kawasan itu sebenarnya untuk mencari makan. Tapi entah mengapa, ketika sudah turun dari mobil, kebanyakan kami hanya duduk-duduk saja di trotoar. Tidak ada yang beranjak untuk benar-benar cari makan.

Saya sendiri baru keluar dari mobil setelah puas berbicara panjang lebar tentang karakteristik manusia dan turunan-turunannya dengan Eka Citra dan Rinna, dalam mobil sedan kepunyaan Arbud. Saya turun karena teringat belum shalat Isya. Saya menghampiri Alwan yang terlihat bingung. Saya tahu, dia juga belum shalat Isya. Oleh karena itu, kami berdua segera bergegas ke gedung Djakarta Theater yang tepat berada di seberang Plaza Sarinah. Saya ingat, bahwa di belakang gedung itu ada masjid agak besar berwarna hijau. Dan ke sanalah kami berdua melangkah.

Usai shalat, kami menyantap nasi goreng dorong yang sedang mangkal di luar pagar Plaza Sarinah, sambil sedikit membicarakan keadaan kami masing-masing. Sedikit tentang masa lalu. Dan sedikit tentang harapan-harapan yang ingin kami capai di masa depan. Tidak terlalu lama. Sebab bila sampai terlena, kami khawatir akan ditinggal oleh teman-teman yang lain.

Nasi goreng kami bayar setelah tak ada lagi butir nasi dan kerupuk yang tersisa. Kemudian, dengan setengah berlari, kami kembali menuju pelataran parkir Plaza Sarinah. Dan benar saja. Ketika sampai di sana, seluruh rombongan sudah masuk ke dalam mobil, bersiap untuk pulang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah. Agak tergopoh-gopoh, saya mendekati mobil jingga mentereng berlabel Lazis Muhammadiyah, menggedor pelan-pelan pintunya, sebelum kemudian melompat ke dalam mobil. Fiuh, suhu dalam mobil justru terasa jauh lebih sejuk dibanding di luar sana. Cuaca yang aneh. Di pagi yang masih buta seperti ini, tubuh saya bahkan tidak ada bosannya terus-terusan mengeluarkan keringat. Panas bukan main!

Setelah memeriksa kembali seluruh rombongan, kami segera meninggalkan Plaza Sarinah. Bertolak menuju Menteng, dengan diiringi sayup-sayup adzan subuh yang terdengar dari corong-corong masjid di kejauhan.

***

Saya hanya terdiam ketika melihat satu per satu teman berpamitan, meninggalkan gedung Muhammadiyah untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Untuk memulai kembali pergelutan dengan dunia nyata yang selama ini mereka coba untuk taklukkan.

Tak ada yang bisa saya cegah. Tak ada yang bisa saya hentikan. Semua berjalan mengikuti perputaran waktu. Sama seperti yang terjadi pada pagi ini, ketika lagi-lagi saya harus pasrah kepada Sang Fajar yang memaksa keluar dari balik langit pekat, tanpa ada satu kekuatan pun mampu mencegahnya.

Britanto, Rinna, Eka, Een, Iim, Fikih, dan akhirnya Lupe. Satu-satu berbalik arah, menjauh pergi. Saya pun hanya bisa termangu, melihat punggung mereka yang semakin mengecil, meredup, hingga akhirnya hilang ditelan pagi.

Suasana sudah semakin sunyi. Sebagian teman rombongan dari Jogja dan Semarang memilih masuk untuk istirahat di mess, begitu juga Arbud. Saya sendiri masih terjaga di teras masjid gedung Muhammadiyah ditemani Latifah, Dongki dan Kasino. Saya tidak boleh pulang ataupun tidur meskipun mata ini rasanya sudah berat sekali. Sebab saya mendapat amanat dari Harkop untuk mengawal kepulangan beberapa teman ke rumah dan stasiun. Memastikan semuanya terurus dan baik-baik saja.

Pukul 5.30, Dongki pun merasa ngantuk. Saat dia akan berjalan menuju mess, saya berpesan,

“Dongki, sebelum lo tidur, bangunin Isa dulu ya. Suruh siap-siap. Dia mesti naik kereta jam 7 soalnya.”

“Oke, Sur,” jawab Dongki sambil menguap.

Isa muncul di hadapan saya sudah dalam keadaan rapi tepat jam 6. Tapi saya tidak lantas terburu-buru. Obrolan basa-basi masih berlangsung selama seperempat jam kemudian, sebelum saya berjalan ke parkiran untuk memanaskan motor. Sekitar jam setengah 7, barulah kami melesat menuju stasiun Gambir dengan mengendarai motor tua saya. Di jalan, motor berjalan terhuyung-huyung tidak seimbang, karena postur Isa yang saya bonceng jauh lebih besar dan berat dari saya. Itu pun belum dihitung dengan beban tas jinjing besar yang dibawanya.

Sampai di depan gerbang stasiun besar berwarna kehijauan itu, Isa turun.

“Udah, udah. Kamu anter aku sampai di sini aja.”

“Yakin? Gak perlu gue temenin ke dalam?”

“Iya, gak usah. Terima kasih ya, Sur.”

“Hati-hati ya, Sa. Kalo bingung, tanya-tanya orang aja.”

Kami bersalaman. Saya sebenarnya sudah ingin memundurkan motor sehabis bersalaman itu. Tapi ternyata saya masih harus dikejutkan kedua tangan Isa yang tiba-tiba melingkar di pundak saya. Ia memeluk pelan. Sebuah pelukan yang sepertinya baru kali ini terjadi di antara kami.

Isa dan saya memang terbilang bukan teman yang terlalu dekat. Tapi melihat perlakuan Isa yang seperti itu, saya pun sadar, bahwa intensitas komunikasi kadang tidak bisa selalu dijadikan ukuran kedekatan antara individu satu dengan yang lain. Ada ikatan lebih kuat dari ikatan yang sekadar dibina melalui pendekatan verbal. Mungkinkah ikatan almamater? Mungkinkah ikatan yang disebut ukhuwah itu? Ikatan persaudaraan? Entahlah.

“Sukses ya, Sur. Buat segala-galanya.”

“Terima kasih. Lo juga ya. Sukses untuk hidup lo.”

Dan kami pun sama-sama tersenyum.

***

Pukul 11.00, saya terbangun. Masih dalam keadaan tertelungkup, saya memandang ke sekeliling mess yang sejuk karena penyejuk ruangan. Posisi saya berada di atas ranjang, berdesak-desakkan dengan Alwan. Di dua ranjang lain dan di lantai keramik dingin yang tidak seberapa luas, terlihat teman-teman pria yang sebagian masih tertidur, bertebaran dan berdesakan. Seperti ikan pepes memang. Tapi saya yakin, kami semua cukup terbiasa menghadapi masalah tidur semacam ini.

Dalam keadaan setengah sadar, saya coba-coba mengingat peristiwa beberapa jam sebelumnya, seusai mengantarkan Isa ke stasiun. Agak sedikit lupa. Tapi sepertinya, saya sempat menemani Kasino memulangkan Ila ke rumahnya di Mampang. Juga menemani Dayu –yang harus segera kembali ke kosnya di Bandung– ke terminal Lebak Bulus. Di mobil gaul plat AB yang jadi tumpangan kami, Kasino memegang kemudi dan saya bersiaga sebagai navigator, berada di sebelah kirinya. Perjalanan jarak dekat ini lagi-lagi merupakan sebuah amanat Harkop kepada saya, agar memandu Kasino yang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta.

Di jok belakang saya ada Ila, Dayu, dan Latifah. Latifah sendiri ingin mengambil beberapa barang yang tertinggal di rumah Ila sekaligus berpamitan, mengucap terima kasih, kepada Mama Ila yang telah bersedia “meminjamkan” rumahnya sebagai basecamp darurat.

Di dalam mobil, saya sepertinya sudah tak kuasa menahan beban mata yang terus meminta diistirahatkan. Saya pun sesekali tertidur. Dan terbangun hanya di saat Ila dan Dayu sudah diantar sampai tujuan. Baru di perjalanan balik ke Menteng-lah mata saya benar-benar bisa terbuka lagi. Itu pun karena satu sebab, mobil tiba-tiba oleng.

“Duh, inyong ngantuk,” celetuk Kasino tiba-tiba.

“Asem. Terus gimana, dong?” rasa kantuk saya mendadak hilang.

“Ya, kowen aja turu maning! Temenin ngobrol!” ujar Kasino sewot.

Jam sembilan kami sudah memasuki pelataran parkir gedung Muhammadiyah lagi. Latifah yang sedari tadi tertidur pun bergegas turun dari mobil, diikuti saya dan Kasino. Latifah langsung menuju parkiran, untuk memanaskan motornya.

“Gak usah nungguin aku, Sur. Kalo ngantuk, tidur aja sana,” kata Latifah.

Saya menguap. “Ya udah deh. Titi dije ya. Kita kontek-kontekan lagi besok.”

“Oke, salam buat teman-teman yang masih tidur.”

“Insya Allah. Gak janji, ye. Soalnya gue gak yakin masih sempet ketemu sama mereka. Bentar lagi gue juga kepengen pulang soalnya.”

Saya memasuki mess dan berbaring di lantai bersebelahan dengan Dongki. Tanpa sempat melepas sepatu, saya pun tertidur pulas. Dan terbangun lagi pada saat ini, dua jam kemudian, dengan posisi yang sudah berpindah ke atas ranjang, dan sepatu yang sudah terlepas.

Aneh.

***

Angin Ibu Kota yang panas dan lengket menerpa wajah saya dan Alwan saat berboncengan mengendarai motor menelusuri Jalan Gatot Subroto. Kami sudah meninggalkan gedung Muhammadiyah untuk berniat pulang. Di sepanjang perjalanan, kami berdua tidak lagi banyak berbicara. Tapi pikiran kami tak hentinya berkelana membayangkan kejadian yang baru saja dialami. Tentang persahabatan, persaudaraan, dan solidaritas. Tentang betapa berharganya tiga tahun kebersamaan di Madrasah Tsanawiyah yang kami lalui belasan tahun silam. Tentang cinta yang berapi-api di setiap binar tatap mata kami, saat berbicara dan bercengkerama satu sama lain.

Sejak hari itu, banyak harapan baru yang tumbuh dalam benak saya. Harapan akan perubahan, apapun bentuknya. Perubahan yang paling jelas sudah terejawantahkan dengan adanya nama-nama baru dalam daftar kontak di ponsel maupun Facebook. Tapi saya masih berharap akan ada perubahan dinamis dalam segi yang lain. Sebuah perubahan yang fantastis. Misalnya, seperti menikahi salah seorang di antara wanita-wanita cantik itu, agar bisa segera saya suruh-suruh untuk memandikan dan menyusui anak saya, juga bapaknya. Pasti seru sekali! ^_^

“Lo abis ini mau ngapain, Far?” Alwan membuyarkan lamunan saya.

“Mau tidur lagi, lah. Udah jelas itu.”

“Maksud gue, apa yang mau lo lakuin dengan hidup lo selanjutnya? Kawin?”

“Iya, pastilah.”

“Kapan?”

“2011. Tapi sama siapanya, gue belum tau. Hahahaha!”

“Terus? Jurnalisme?” tanya Alwan lagi.

“Gak tau. Kalo cuma begitu-begitu aja, gue pengen cari yang lain. Berbisnis di musik lagi mungkin.”

“Ooh,” Alwan hanya melongo.

“Kenapa, emang lo mau terjun ke media juga?” tanya saya.

“Mmm, menurut lo gimana? Masih ada kans gak buat gue?”

Dan saya pun hanya terkekeh.

Pasar Kramat Jati tetap ramai meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan yang terlalu parah. Saya mengendarai motor dengan perlahan, seperti biasanya. Dan setelah beberapa kali melewati kerumunan angkot-angkot yang ngetem sembarangan, pertigaan yang menjadi tujuan kami pun mulai terlihat dari kejauhan. Pertigaan Hek. Di sanalah Alwan minta diturunkan.

“Thank you, Sob.” Alwan menyalami saya. “Terus, ngomong-ngomong, lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi.”

Saya menghela nafas. Mengutarakan opini-opini yang berseliweran dalam benak saya selama beberapa menit, sebelum mengucap salam perpisahan untuk terakhir kalinya. Alwan membalas dengan senyum. Sekali lagi, ia berterima kasih dan menjabat tangan saya erat-erat. Setelah itu, saya pun menancap gas dan berbelok kiri, menuju arah Pondok Gede. Menghilang di balik padatnya lalu lintas kota.

***

Hidup adalah anomali yang kadang dihias dengan berbagai macam keanehan dan ketidakmungkinan. Kurang lebih itulah pesan tersirat yang coba saya sampaikan pada Alwan di akhir perjumpaan kami. Di usia sebaya kami, memulai dari awal sesuatu yang baru, sering dirasa kurang pas oleh banyak orang. Terlambat katanya. Tapi saya yakin, tidak ada hal yang tak mungkin dicapai bila keinginan itu dikejar dengan usaha yang sungguh-sungguh. Ya, karena hidup itu memang aneh. Tidak selalu bisa diprediksi. Dan segala fenomena apapun, selalu memiliki kemungkinan untuk terjadi, meski seringkali berlawanan dengan akal sehat.

Begitu juga dengan acara tempo hari. Saya mendapati banyak sekali anomali dalam pembicaraan ataupun gosip-gosip yang berhembus di sekitar teman-teman. Mulai dari obrolan aneh tentang Lupe yang akan menikah dengan Pak Djadjuri ayah Brutu. Atau sebuah foto mesra Lupe dan Dongki dalam Facebook yang mengundang komen panjang teman-teman, padahal di sisi lain Dongki sendiri tengah santer digosipkan dengan Miss You Know Who. Begitu juga Brutu. Ia harus rela terkena gosip akibat komentarnya yang kontroversial ketika ditanyai pendapat mengenai sosok Neimah.

“Brut, menurut lo, Neimah gimana?” tanya seseorang di antara kami.

“Wah, pokoknya, Neimah itu, aku bangets!” jawab Brutu cengar-cengir dan disambut dengan ledekan kami semua.

Ya, anomali. Memang itu kerap terjadi dalam setiap interaksi antarmanusia. Dan khusus untuk teman-teman angkatan kami, anomali bahkan sudah terjadi sejak dulu. Sejak kami merilis buku kenangan berjudul The Black Album, yang justru diberi sampul berwarna biru. Ah, buku yang aneh. Sama anehnya dengan perasaan saya ketika tak sengaja menatap mata Een dan Neimah. Perasaan aneh yang harus membuat saya mengaku bahwa saya telah jatuh cinta, dengan sebuah cinta tulus yang begitu besar. Sebesar rasa cinta saya terhadap Arbud, Alwan, Brutu, Dongki, Rino, dan seluruh teman alumnus Madrasah Tsanawiyah Assalaam ’98.

***

Siang itu, matahari pun terus meninggi. Seiring lagu Metallica yang saya dengarkan melalui ponsel, mengalun perlahan menuju bait terakhir.

Ash to ash…
Dust to dust…
Fade to black…
And, the memory remains…

***
(selesai)

 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: