RSS

Tolong Menolong Dalam Kebaikan

16 Apr
Alhamdulillah, selesai juga tugas kenegaraanku hari ini. Semua yang telah dijadwalkan untuk hari ini di cancel semua, tapi bukannya karena pembatalan tersebut akan jadi lebih ringan kegiatannya, namun keadaan diluar kendali Tuhan ternyata lebih berat untuk ditangani. Unpredictable moment, semua langsung bergerak tanpa adanya komando karena memang begitulah seharusnya manusia hidup secara berdampingan dalam lingkungannya, ditambah lagi dalam keadaan di negeri orang yang jauh dari sanak saudara dan hanya mengandalkan uluran dan keihklasan dari rekan-rekan sejawat untuk dapat membantu.

Ini menjadi kali pertama bagiku menghadapi situasi kedukaan di negeri orang, Jerman. Dan kebetulan lagi yang meninggal adalah rekan kantor, seorang diplomat yang memang sudah lama mengidap penyakit yang cukup serius ini.

Sulit kadang untuk membayangkan bagaimana budaya di Indonesia harus dibawa ke Jerman dalam hal menengok orang sakit di Rumah Sakit di sini. Di Indonesia dengan budaya kekeluargaannya dan memang menjadi kewajiban umat islam untuk menengok saudaranya yang sedang sakit, agar dapat menghibur kedukaan yang sedang menimpa saudara menjadi hal yang lumrah, sehingga nampak dimata kita kadang Rumah Sakit yang seharusnya bersih dan higienis akan menjadi kotor dan kumuh karena saking banyaknya penjenguk yang dengan santainya mengelar tikar ntar di koridor ataupun di taman-taman Rumah Sakit tersebut.

Berbeda halnya dengan di sini, Berlin dan mungkin juga kota-kota eropa lainnya. Menurut orang sini, sakit berarti harus beristirahat. Dengan pemahaman seperti itu praktis orang yang sakit akan menjalani hari-harinya dalam kesendirian di dalam ruang kamarnya tanpa ada seorangpun dari kerabatnya yang ada di dekatnya, kecuali pada jam jenguk yang telah ditentukan. Selebihnya seandainya pasien membutuhkan pertolongan maka dia harus memanggil perawat untuk dimintai tolong. Maka dari itu, meski biaya rumah sakit dan berobat di Berlin gratis, karena perbulan harus membayar asuransi, namun aku dan siapapun dari rekan-rekanku tentunya tidak akan mau untuk sakit.

Meski dengan kondisi budaya yang sangat berbeda ini, ternyata aturan Rumah Sakit Westend tidak berlaku untuk kasus Mbak Oi yang sempet divonis dokternya sudah tidak dapat disembuhkan dan hanya menunggu waktu saja. Boleh jadi kejadian jenguk-menjenguk waktu itu memecahkan rekor di Berlin, karena orang-orang KBRI selalu standby jika ada kabar-kabar yang tidak enak tentang kondisi Mbak Oi. Bahkan tidak hanya orang KBRI saja yang datang menjenguk, bahkan warga masyarakatpun tak kalah keinginannya untuk dapat bersilaturahmi. Nah, dapat dibayangkan bagaimana suasana koridor Rumah Sakit tersebut dengan banyaknya penjenguk dari Indonesia yang tentunya tidak hanya berdiam saja, namun celotehannya menggema ke penjuru koridor tersebut.

Akan tetapi kondisi di atas menang sudah dikomunikasikan dengan pihak Rumah Sakit Westend dikarenakan kondisi pasien yang memang sudah tidak dapapt disembuhkan lagi, kecuali adanya keajaiban dari Tuhan. Bapak Duta Besar selaku Kepala Perwakilan telah meminta ijin kepada management Rumah Sakit seandainya memang akan banyak penjenguk dari rekan pasien, mohon dapat diberikan keringanan peraturan, dan seandainya memang para pasien lain ataupun management Rumah Sakit merasa terganggu dengan kondisi yang ada mohon dapat memberitahu kepada pihak KBRI agar kejadian tersebut tidak terulang. Sedemikian besar tanggung jawab dari beliau dalam menjaga anak buahnya.

Dan sekarang tentunya ketentraman sudah kembali muncul di Rumah Sakit itu seiring dengan telah dipanggilnya Mbak Oi oleh Allah pagi ini jam 09.30. Suasana kekeluargaan yang begitu kuat ditunjukkan sedari pagi hingga malam ini yang berakhir di Masjid AL Falah, (www.iwkz.de) yang menjadi tempat bersilaturahmi warga muslim Indonesia di Berlin, dengan melakukan doa bersama. Semoga apa-apa yang telah dilakukan oleh saudara-saudara hari ini dalam membantu meringankan beban keluarga Mbak Oi dalam pengurusan jenazahnya mendapatkan keridhoaan di sisi Allah dan semoga Allah akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa-apa yang telah mereka usahakan hari ini.

“Innallah fi aunil ‘abdi ma daamanl ‘abdu fi auni akhiihi”

kamal -deepest condolence-
Berlin,
23.27 16.04.2010

 
Leave a comment

Posted by on 16 April 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: