RSS

Memandang dengan kaca mata orang lain

03 May

Pernahkah kita dimitai tolong oleh orang lain?
Pernahkah kita meminta pertolongan orang lain?

Pertanyaan di atas tentunya akan kita jawab semuanya dengan jawaban ‘iya, pernah’. Tulisan ini hanya pandanganku sebagai bagian dari milyaran manusia yang hidup di dunia ini, dan tepatnya seorang Kamal Abdul Aziz yang berasal dari pelosok desa di Kecamatan Weleri sana.

Dalam hidup bermasyarakat tolong menolong adalah hal yang lumrah terjadi, artinya kita tercipta sebagai makhluk sosial dengan ditambah lagi adanya budaya ewuh pekewuh yang melekat pada budaya ketimuran.

Pertanyaan selanjutnya,
Pernahkan kita menolong orang lain dengan keterpaksaan?
Pernahkan kita tidak puas dengan pertolongan orang lain?

Dan aku juga bisa pastikan jawaban kita tidak akan jauh beda dengan jawaban dari pertanyaan pertama ‘iya, pernah’. Aku kira juga merupakan suatu kewajaran jika suatu waktu ada rekan kita membuthkan pertolongan, namun di sisi lain ada sesuatu yang mungkin juga sedang kita lakukan, atau mungkin kita tidak enakan apabila ada rekan yang membutuhkan pertolongan namun kita tidak menolongnya, yang artinya ada suatu keterpaksaan yang muncul dalam kondisi demikian. Patut dicermati, keterpaksaan yang terjadi sesungguhnya bukanlah keinginan dari diri sendiri, namun lebih kepada situasi dan kondisi yang ada pada saat itu, sehingga menjadikan diri kita muncul rasa keterpaksaan. Keterpaksaan yang demikian menurutku dapatlah ditolelir dibandingkan seseorang yang ketika dimintai suatu pertolongan menghindarinya. Justifikasi terhadap keterpaksaan seseorang dalam menolong orang lain bahwa orang tersebut bersifat tidak terpuji tidak selayaknya kita sematkan, karena meskipun dengan keterpaksaan namun sejatinya seseorang tersebut telah melakukan suatu kebaikan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Al Zalzalah:7)

Hal di atas merupakan bagian kecil dari kehidupan ini. Seandainya kita bisa menjadikan diri ini ikhlas dalam melakukan sesuatu orang lain baik dalam suka maupun duka, tentunya itu merupakan suatu kelebihan tersendiri yang sangat sulit untuk dibayar dengan apapun. Pernahkan kita memandang hidup ini dengan sudut pandang/kaca mata orang lain? sungguh sangat menarik untuk memposisikan diri kita sebagai orang lain ketika kita dihadapkan pada suatu kejadian tertentu. Dengan hal ini maka kita akan memiliki empati yang lebih baik lagi terhadap orang. Dan kitapun akan berandai-andai.. “seandainya aku dalam posisi seperti itu, bagaimana ya?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian akan muncul dalam benak kita yang pada gilirannya akan muncul jiwa sosial yang lebih baik dari sebelumnya.

…bersambung….
—ngantuk—

 
Leave a comment

Posted by on 3 May 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: