RSS

Remembering of Ma’haduna I

06 Jun
Sudah lama sepertinya diriku vakum dari kegiatan tulis menulis kembali, meski sebenarnya banyak hal yang ingin kutuliskan di sini, namun terkadang diriku selalu berfikir, untuk apa hal-hal yang sepele dan lebih bersifat pengalaman pribadi di share di sebuah blog? kalau ada yang mbaca malah nantinya akan menertawakanku dengan berbagai pengalaman pribadi yang konyol dan tidak layak untuk dibaca. Meski begitu, ternyata persepsiku sepertinya salah, karena diantara 230 juta penduduk Indonesia ini, ternyata ada seorang yang menanyakan tentang kevakumanku dalam menulis, dan itu sungguh diluar dugaanku, ternyataaaaaa.. :)) dan malam inipun tanpa ragu lagi kumulai menghentakkan jari telunjukku untuk mengetik dengan gaya tersendiri diatas keyboard laptop usang ini.

Sebelum membuka kembali blog ini untu kemudian aku mulai menulis, ada hal yang sedikit memberikan inspirasi padaku yaitu kisah inspiratif yang ditayangkan dalam Kick Andy pada episode “Negeri 5 Menara”. Ketika pertama kali membaca judul itu, yang terbesit dalam benakku tetang Negeri 5 Menara adalah 5 agama yang diakui di Indonesia, artinya selain menara umat islam ada menara-menara dari agama-agama lain yang juga diakui di negeri ini. Namun ternyata dugaanku salah besar, judul tersebut tidak ada kaitannya dengan perbedaan keagamaan.

Negeri 5 Menara sebuah novel yang diilhami dari perjalanan kehidupan 6 orang anak yang pernah tinggal satu asrama dalam sebuah Pondok Pesantren Modern Gontor di Ponorogo. Apa yang ceritakan oleh beberapa orang yang namanya ada dalam novel tersebut tidak berbeda jauh dengan keidupan yang pernah kualami di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam di Solo. Meski mungkin pamor Pondokku tidaklah setenar Gontor, namun kehidupan keseharian dalam asrama sepertinya tidaklah jauh berbeda.

Pada awalnya pun aku tidaklah berminat untuk mengenyam pendidikan pesantren. Hal ini buknalah karena aku tidak ingin belajar agama dengan baik, namun dari sisi ekonomi keluarga saat itu aku merasa tidaklah memungkinkan bagi Ayahku untuk menyekolahkan Kakakku, Abangku yang sudah belajar d sana duluan dan selanjutnya diriku. Meski dalam hitungan matematis sebenarnya tidaklah semahal saat ini, namun jika aku sekolah di SMP ataupun MTs yang deket dengan rumah tentunya hal ini dapat sedikit meringankan beban anggaran orang tua.

Akan tetapi keinginanku ternyata tidak dikabulkan. Dengan berbekal kegalauan, aku pun memulai bersekolah di asrama yang jauh dari orang tua, meski pada kenyataannya kedua saudara kandungku berada di sana namun saat itu aku masih membutuhkan kasih sayang orang tua, terlebih lagi aku adalah anak bontot :)) Tapi apalah daya, saat itu aku sebagai anak hanya bisa menuruti keinginan orang tua yang berkewajiban untuk memberikan bekal ilmu agama kepada anak-anaknya.

Hari-hari pertama ketika orang tuaku mulai meninggalkanku dalam lingkup asrama, serasa tidak ada lagi tempat untuk nguyel-uyel dan gangguin kedua orang tua ketika malam tiba. Semua begitu terasa asing bagiku. Makan malam pertama akhirnya kujalani dengan aras-arasen, harus mengantri dengan membawa nampan dari besi yang sudah tercetak tempat-tempat untuk nasi dan lauk pauknya. Ketika hendak mengambil tempat duduk, ada satu wajah yang agaknya familiar disebuah bangku dan mengajakku untuk bergabung, ternyata kita pernah bertemu sewaktu proses pendaftaran masuk asrama ini. Namanya Nur Ilmi, dia berasal dari Pekanbaru, dan dialah orang pertama yang kukenal di Assalaam.

Hingga malam itu Rayon 2 masih terasa rame dengan obrolan berbagai bahasa daerah dan suasana haru. Ada yang sebagian orang tuanya belum meninggalkan anaknya, krena mungkin berasal dari luar jawa atau mungkin anaknya masih belum bisa ditinggal. Pastinya satu kamar yang berukuran kurang lebih 9×7 meter itu diisi sekitar 20 anak-anak kecil yang baru pertama kalinya mengenyam kemandirian tersebut masih terdengar celotehan anak-anak kecil yang bercerita tentang dirinya dan asal daerahnya dengan antuisiasnya. Kamarku sendiri bernomor 20, yang lebih terkenal dengan sebutan KPA 20 (Kamal Putera 20).

Dalam satu kamar tersebut kami duduk di kelas yang berbeda-beda, dan tentunya kelas kamipun berbeda dikarenakan hasil proses perankingan test masuk waktu itu. Aku sendiri berada di kelas 1 i, dengan wali kelas Ust. QOmaruddin, salah satu Ust. ternyentrik dan modis yang ada di Assalaam waktu itu bahkan hingga sekarang mungkin. Kefasihannya dalam melafalkan lafadz Arab dan Inggris menjadikannya terkenal dengan sebutan Mr. Moon. Kelas Ii ini berada tepat dipojokan kopel kelas-kelas lain dan berdekatan dengan kamar mandi dipojokan, sehingga terkadang ketika kami sedang belajar dengan konsentrasi penuh, sesekali tercium aroma-aroma yang membuat kami saling toleh. Dan dikelas inilah telah terjadi perubahan besar terhadap diriku. Hari-hari pertama aku berada di asrama teman-teman masih memanggilku dengan panggilan nama kecilku, Aziz. Namun ketika Mr. Moon mulai mengabsen dan menyebutkan namaku, maka beliau bertanya padaku “Kamal Abdul Aziz, mau dipanggil apa ini, Kamal atau Aziz?”. Mungkin ada keraguan dalam diriku untuk mengganti nama kecilku, namun dengan keyakinan Mr. Moon mengatakan panggilan ‘kamal’ sepertinya lebih mantap, dan akupun mengiyakannya. Maka sejak hari itulah nama panggilanku berubaha menjadi ‘kamal.

Hari berganti dan waktupun berlalu. Kesibukan belajar di kelas telah melupakanku akan kesendirian yang pernah aku takutkan, dan perkenalan dengan teman-teman baru telah membuatku sedikit dapat menikmati indahnya hidup dalam suatu lingkungan yang memiliki satu perasaan yang sama, jauh dari orang tua. Pagi hingga siang kami habiskan waktu di kelas dengan puluhan mata pelajaran yang masih sangat asing bagi otakku. Sore hari kami nikmati kebahagaian sebagai anak sesama umur dengan bermain-main di lapangan atau hanya sekedar mengobrol di taman-taman. Dan malam kami isi dengan belajar di kelas-kelas dan masjid hingga pukul 9 malam dan selanjutnya di kamar kami diberikan tambahain ilmu bahasa arab dan inggris yang biasa kami sebut dengan tasyji’ul lughoh. Hingga saat ini aku bisa sedikit berbicara dengan bahasa arab dan Inggris meski tanpa pernah mengikuti kursus-kursus, kesemuanya akau pelajari sembari berpraktek di asrama.

Tasji’ul lughoh merupakan budaya tersendiri yang terbentuk dalam lingkup asrama. Maksud budaya di sini adalah proses pembelajaran yang turun temurun dengan metode yang sama yang telah dipraktekkan generasi sebelumnya dan telah memberikan hasil yang luar biasa. karena kami masih anak-anak baru dan belum mengerti tentang bahasa arab, maka yang menjadi pembimbing bahasa waktu itu adalah kakak kelas kami kelas 2 dan sebagai pembimbing kamar adalah kakak kelas 4. Metode yang menurutku cukup simple untuk diterapkan dalam proses belajar bahasa asing. Setiap malam setelah belajar di kelas, kami disuguhkan beberapa kosa-kata Arab dan Inggris untuk kemudian harus dihafalkan malam selanjutnya, dan jika dimalam pengulangan tersebut kami tidak dapat menghafal dengan baik, maka ada semacam hukuman atau iqob yang harus kami terima. ntah itu berupa push up atau pun diminta untuk menyapu kamar setelah acara itu selesai.

Begitu tasyji’ul lughoh selesai, kamipun langsung menurunkan satu persatu tumpukan kasur yang berjumlah sebanyak penghuni kamar tersebut, yang tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Kamipun langsung berebut mencari tempat yang enak atau mencari temen ngobrol tidur yang sesuai. Terkadang ada yang karena kasurnya agak bawah maka dia terlambat untuk mengambil kasurnya dan pada akhirnya harus menempatkan kasurnya di deket tempat ember atau pakaian kotor yang mungkin agak sedikit merasakan aroma ‘wangi’. Sangat seru untuk dibayangkan situasi malam itu, sekumpulan anak-anak kecil yang menyeret-nyeret kasurnya dan berusaha mencari-cari bantal dan gulingnya diantara banyaknya bantal dan guling yang ada.

Tepat jam 04.00, suara sirine panjang dan keras membangunkan kami dari mimpi-mimpi yang ntah berantah. Merupakan suasana yang kurang mengenakkan, karena harus merubah kebiasaan sewaktu di rumah dengan kebiasaan baru yang berbeda 180 derajat. Setiap pagi suasan riuh bergemuruh di lorong koridor rayon. Anak-anak yang baru terbangun berusaha mencari-cari sandalnya masing-masing yang ditempatkan di rak sepatu usang karena sudah bertahun-tahun turun temurun dari beberapa generasi sebelumnya tidak pernah diganti. Suara-suara sandal yang dibanting oleh anak-anak tersebut ketika hendak memakainya diujung koridor juga suara khas yang tidak pernah kita dengar dimanapun, ‘cepal’ ‘ceplok’ ‘plak’, bunyi yang timbul tergantung dari jenis sandal masing-masing anak. Kemudian kami segera menuju lorong kamar mandi yang jumlahnya puluhan berjejer dengan warna merah gelap yang terkadang di malam hari membuat bulu kuduk ini merinding untuk melewatinya. karena disini banyak cerita-cerita yang nyata atau sengaja dibuat oleh kakak.-kakak kelas untuk menakut-nakuti anak baru. Selain kamar mandi yang berjejar dengan atap tertutup, disebelahnya juga terdapat Reservoir, semacam tempat penampungan air dan juga tempat untuk mencuci pakaian beserta jemurannya yang cukup luas. Di Reservoir ini juga terdapat petak-petak tempat untuk mandi tanpa atap dan tanpa pintu. Jadi seandainya kita ingin mandi maka harus membawa sarung atau handuk yang besar yang dapat dijadikan sebagai penutup pintunya. Terdapat kabel kawat sepanjang petak-petak mandi itu yang funsinya untuk menggantungkan handuk ataupun sarung yang dijadikan penutup.

Berlin, 22.39 06062010

 
Leave a comment

Posted by on 6 June 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: