RSS

Monthly Archives: August 2010

Bagian 7: Harga Sebuah Kedisiplinan

Salam tanda selesai sholat Ashar baru saja terucap dari sang imam sholat sore itu. Sejenak para jamaah tertegun dalam kekhusyuan berdoa. Hening dan sepi. Hanya suara tiupan angin yang terdengar masuk dari pintu-pintu masjid putih megah dipojokan asrama.

Brug..brug….. tiba-tiba tanpa komando terdengar suara langkah-langakah cepat setengah berlarian. Para jamaah dengan tergesa-gesa meninggalkan masjid tanpa pamitan. Akupun bergabung dalam rombongan itu. Waktu sempat berhenti ketika harus mencari sandal yang sebelumnya tertata rapi lalu telah morat-marit karena semua berebut untuk dapat segera meninggalkan masjid pulang menuju ke asrama masing-masing.

Sudah menjadi jadwal bagi kami setiap hari Sabtu sore jam 16.00 melaksanakan kegiatan pramuka. Kegiatan yang sangat menanamkan kedisiplinan yang super ketat. Tidak ada toleransi bagi yang terlambat.

Asrama menjadi gemuruh oleh anak-anak yang berusaha untuk mengambil perlengkapan pramukanya dan segera meninggalkan asrama sebelum didaur oleh kakak pembina pramuka. Bahkan banyak diantaranya yang menjinjing sepatu dan berlari tanpa alas kaki untuk dapat segera melewati batas garis dimana menjadi patokan sebagai tempat diberikannya hukuman bagi anggota yang terlambat.

Meski seperti dikejar harimau, namun aku berusaha terlihat santai. Tidak ingin seperti anak-anaka kebanyakan yang berlarian kalah perang. Kupakai sepatu dari depan koridor asrama. Begitu hendak berdiri sepertinya ada ynag masih terlupa. Ya, tongkat pramukaku masih tertinggal di dalam kamar, dna artinya aku harus melepas kembali sepatuku dan masuk ke kamar untuk mengambil tongkat tersebut.

Terdengar begitu keras teriakan kakak pembina dari pojokan gelora. Lima…empat…tiga…dua…SATU. Semua yang masih berada dalam garis batas hukuman segera dibariskan. Aku berdiri diantara mereka dalam shaft yang rapi. Kakak pembina pun berceramah tentang kedisiplinan yang harus dijunjung tinggi seseorang. Mengecek perlengkapan masing-masing personil apakah sesuai dengan persyaratan untuk mengikuti acara pramuka sore itu.

Lalu dengan teriakan yang melenking “Irfa’ rijlakum” (Angkat kakimu), kamipun mengangkat salah satu kaki kami, memberikan paha kami yang hanya terbalut kain celana coklat panjang untuk diberi hukuman yang sesuai dengan kesalahan kami dalam hal kedisiplinan.

Dan bug..bug..bug.. suara stick drum mengenai paha mulai terdengar sayup-sayup mulai mendekatiku. Sudah ada beberapa rekanku yang tersungkur menahan sakitnya pukulan itu. Dan melihat itu semua hati seperti berhenti. BUG…. accccccccch… suaraku tertahan di tenggorokan menahan sakit yang teramat. Sepertinya akupun tak sanggup untuk menahan sakit ini sembari berdiri, tapi aku berusaha untuk tetap kuat dan memegangi paha yang sakit dengan rintihan pelan.

Kami para terhukum segera berlarian ke arah lapangan untuk upacara pembukaan latihan pramuka sore itu. Rasa dongkol masih tersisa akibat hukuman yang bagi kami sangat menakutkan. Tapi itulah kedisiplinan, harus ditanamkan untuk bekal dikehidupan nyata.

Sembari terseok-seok berjalan ke arah lapangan, mata selalu menatap kata-kata mutiara yang banyak dipasang dibeberapa tembok-tembok bangunan Pondok ini dalam bahasa Arab dan Inggris. “To wait two hours better than to be waited two minutes“. Itu kalimat yang tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh jaman. Selalu terngiang dalam benakku.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18 August 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Bagian 6: APA KATA DUNIA? 65 TAHUN BANGSAKU

“APA KATA DUNIA?”, ungkapan yang cukup tenar ditelinga ketika film Naga Bonar Jadi 2 sedang diputar di bioskop-bioskop di Indonesia. Dedi Mizwar sebagai sutradara sedemikian rupa dapat memberikan tontonan yang menggambarkan tentang bangsa kita, bangsa yang terbelit benang hingga sulit untuk dapat bergerak lincah seperti bangsa-bangsa lainnya.

Benang ruwet. Itulah gambaran berbagai persoalan yang menimpa bangsa Indonesia. Dan mungkin hanya Dedy Cobuzer sajalah yang dapat melepaskan benang ruwet itu dengan kemampuan magicnya. Tapi tidak untuk benang ruwet bangsa ini.

Seiring bertambahnya umur, biasanya seseorang akan semakin dewasa dalam menyikapi segala permasalahan hidupnya. Mengambil pelajaran dari kekeliruan yang pernah dibuatnya untuk kemudian diperbaiki dimasa selanjutnya.

Tepat 17 Agustus 2010 esok hari, Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaa ke 65. Sudah lebih dari setengah abad ternyata umur bangsaku. Sayangnya di umur yang sudah cukup itu kelakuannya masih saja kenakak-kanakan. Tentu bukanlah salah Indonesia, karena Indonesia hanyalah sebuah nama dari negara yang dikelola oleh orang-orang pengabdi negara. Siapakah orang-orang abdi negara tersebut? Banyak. Dan semua membawa kepentingan pribadi ataupun golongannya sendiri-sendiri.

Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Demikian pernyataan yang sering dikumandangkan oleh orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungan bangsa ini. Andaikan para pendiri bangsa ini yang telah dianugerahi gelar pahlawan masih bisa berdiri untuk mengikuti upacara bendera di Istana Merdeka, apa kira-kira yang akan mereka ungkapkan tentang masa depan bangsa ini yang semakin tidak mengarah kepada cita-cita ”membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

Kehebatan bangsa kita adalah dapat menyelesaikan segala sesuatunya dengan sangat mudah, jalur politik merupakan pilihan tepat untuk memnangkan segalanya. Kesengsaraan rakyat akibat lumpur Lapiondo Brantas ditukar dengan deal-deal politik yang tidak menyentuh masyarakat kelas bawah namun malah menambah pundi-pundi kekayaan perusak dengan memberikan subsidi penggantian kerugian dari APBN kepada warga, dan semua adalah legal.

Keruwetan yang terjadi tentu tidak hanya berhenti di kubangan lumpur. Dari 230 juta warga negara saat ini, berapa persen yang dapat menikmati pendidikan dasar yang menjadi hak mereka? Pendidikan yang membuka cakrawala anak-anak bangsa untuk dapat memperbaiki kualitas bangsa ini sepertinya hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang mampu membayar lebih namun tidak untuk mereka yang untuk makan sehari-hari saja harus berpikir. Bagaimana mungkin untuk memikirkan pelajaran kalau makan saja harus berpikir. Mungkin sudah penat otak-otak masyarakat lemah untuk memikirkan lebih lanjut tentang biaya sekolah. Hidup mereka hanyalah untuk makan. Pendidikan sangat memprihatinkan dengan 11 juta anak buta huruf tidak pernah sekolah, 4.370.492 anak putus SD, dan 18.296.332 anak putus SMP.

Sementara wakil rakyat sibuk mengurus dirinya sendiri dengan usulan rumah aspirasi untuk 560 anggota DPR didanai APBN senilai Rp 200 juta per orang per tahun, sebelumnya dana aspirasi senilai Rp 15 miliar per orang per tahun, juga asuransi Rp 66 juta per orang per tahun, serta meminta gedung baru DPR senilai Rp 1,8 triliun. APA KATA DUNIA?

Dari 230 juta penduduk negeri ini, tentu ada sepersekian persennya yang masih menginginkan bangsa ini tetap berbendera Merah Putih, Berdasar Pancasila dan Berlambang Garuda. Indonesia adalah negara yang hebat, terletak di daerah tropis yang memiliki berbagai macam kekayaan dan merupakan negara terkaya di dunia. Sudah saatnya kita berbenah. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik untuk mengelola negara ini. Optimisme selalu ada jika kita selalu berusaha untuk bangkit “innallah la yughoyyiru ma biqoumin hatta yughoyyiru ma binafusihim”. MERDEKA!!!

 
Leave a comment

Posted by on 16 August 2010 in Uncategorized

 

Bagian 5: Menahan Lapar Duniawi

Sedari kecil kita sudah didik untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan oleh keluarga. Sebelum masa Baligh, puasa menjadi suatu kegiatan untuk melatih anak agar mengenal salah satu ajaran Islam, sehingga kelak ketika beranjak dewasa sudah dapat melaksanakannya dengan sempurna.

Masa itu -kecil- menjadi masa yang cukup sulit untuk dapat menahan diri dari tidak makan dan minum. Ketika melihat makanan sisa sahur di meja makan rasanya gatal tangan kita untuk beranjak mengambil dan memasukkannya ke dalam mulut. Segala makanan dan minuman disiang itu terasa nikmat oleh pandangan mata.

Meski berlatih dengan puasa bedug – hanya sampai waktu dhuhur- namun cukup menguji kesabaran seorang anak. Menunggu waktu bedug seperti sudah menunggu waktu berbuka puasa menjelang magrib. Segala sesuatu untuk berbuka di siang itu sudah dipersiapkan sedemikian rupa, seperti ingin melahap semua makanan yang sudah diincar sebelumnya.

Dan ketika waktu itu datang, apa yang kemudian dirasakannya? cukup dengan tegukan air dan beberapa santapan makanan sudah begitu mengenyangkan. Apa-apa yang sebelumnya sudah diimpi-impikan untuk dapat dilahap habis hanya tinggal harapan, karena perut ini sudah tidak berminat untuk menampung makanan-makanan lainnya.

Cukup dengan makan sebagian  saja  kita sudah telentang kekenyangan. Setelah sebelumnya lemas karena kelaparan, kita segera lemas oleh kekenyangan. Saat itu, diam-diam,  sebetulnya pelajaran malu mulai diperkenalkan. Setelah sebelumnya ganas  merengek  agar diperbolehkan makan, ternyata apa yang disebut makan itu hanya secepat itu, hanya sesingkat itu dan sesederhana itu.

Apakah esok harinya kita megambil pelajaran dari hari sebelumnya? ternyata tidak. Kita tetap saja merengek untuk bisa berbuka lebih awal meskipun hanya puasa bedug. Nafsu lapar dan haus kita seakan tetap menjadi.

Ketika beranjak dewasa, maka sudah barang tentu kita mampu menahan kelaparan dan kehausan di waktu puasa, meski terkadang dengan kepayahan yang sangat.  Itu semua dilakukan “la’allakum tattaqun”, agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Dan setelah menjadi kewajiban, maka kita tidak hanya harus mampu menahan nafsu perut saja, namun kita juga harus dapat menahan nafsu-nafsu buruk lainnya yang dapat mengurangi makna puasa itu sendiri.

Kelaparan boleh-boleh saja, apalagi kalau hanya urusan perut semata. Yang patut diperhatikan tentunya kelaparan-kelaparan lainnya yang dapat menjadikan kita menjadi manusia yang tidak pernah puas dengan sesuatu yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Lapar kekayaan, lapar kekuasaan, lapar perhatian dan lapar-lapar lainnya perlu sedikit demi sedikit kita minimalisir sehingga akan terhapuskan seiring dengan didaptnya hikmah dari puasa Ramadhan yang sedang kita jalani saat ini.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

 
Leave a comment

Posted by on 16 August 2010 in Uncategorized

 

Bagian 4: Ramadhan, Syahrul ‘Adhim

Bulan Ramadhan merupakan bulan bagi umat islam untuk menunaikan salah satu rukun islam. Bulan Ramadhan memiliki banyak penamaan, semisal syahrul mubarok, syahrul adhim, syahrul maghfiroh dan lain sebagainya. Kesemuanya itu memberikan gambaran kepada kita betapa berharga dan agungnya bulan Ramadhan di bandingkan dengan bulan-bulan hijriyah lainnya.

Bulan Ramadhan dengan segala kelebihannya telah menyedot perhatian yang kuat bagi kebanyakan warga Indonesia. Ramadhan memberikan kesan tersendiri bagi kita. Di bulan ini banyak terjadi kebiasaan-kebiasaan baru yang hanya muncul setahun sekali. Banyak berceceran penjaja makanan di sepanjang jalanan ketika bedug magrib hendak ditabuh. Apakah mungkin suasana ini terjadi di bulan-bulan lainnya? Iya mungkin saja, tapi gegap gempitanya tidak ada yang bisa mengalahkan Ramadhan.

Semua orang berusaha menuai untung, dari untung materi hingga untung ukhrawi. Allah melipatgandakan semua amalan baik di bulan suci ini, dan Allah juga menebarkan rizkinya berlipat kepada hambaNya yang mau berusaha dengan baik. Perlombaan untuk menjadi yang paling utama telah dimulai, dan tidak hanya di Indonesia, tapi seantero dunia menyambut bulan Ramadhan dengan rasa gembira layaknya menunggu kedatangan sang jabang bayi dari rahim seorang ibu.

Para penyanyipun berlomba-lomba untuk menelurkan album-album terbaru bernuansa religi islami. Menjual lantunan bait-bait lagu untuk didendangkan bersamaan dengan santap sahur dipagi hari. Saluran televisi secara serempak menyuguhkan lelucon dengan artis-artis yang berusaha untuk menghibur masyarakat di waktu pagi. Tidak terkira berapa rupiah yang berputar di Indonesia selama Ramadhan berlangsung.

Kegegap gempitaan yang kita jumpai merupakan budaya pop yang dalam hitungan hari ketika akan berakhirnya Ramadhan langsung hilang bagaikan ditelan bumi. Berbagai kegiatan dan acara dari pengajian di surau-surau, masjid maupun di televisi secara drastis turun intensitasnya. Semua acara berganti dengan hidangan ketupat dan sayur opor yang sangat khas menjadi hidangan pembuka di pagi hari.

Di Bulan yang suci ini, semoga kita akan senantiasa dapat merecharge iman kita untuk lebih dekat kepada sang Khaliq. Melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan yang berbalas dengan dilipatgandakannya pahala bagi kita. Marhaban ya Ramadhan, Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan.

 
Leave a comment

Posted by on 9 August 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Bagian 3: Menikmati Pikiran Positif

Manusia diciptakan oleh Allah dengan memiliki akal yang menjadi pengontrol segala hal dalam kehidupannya. Disamping akal, manusia juga dibekali dengan hati yang berperan besar dalam membimbing jalan seseorang. Dengan hati yang bersih seseorang akan terbimbing untuk menapaki setiap langkah kehidupannya dengan sangat baik, namun sebaliknya, dengan hati yang kurang bersih tentu kehidupan akan kurang begitu bermakna baginya.

Penciptaan manusia termasuk yang paling sempurna diantara ciptaan-ciptaan Allah. Dibandingkan dengan hewan, tentulah manusia lebih sangat sempurna dengan bekal akal yang terintegrasi dalam dirinya. Dengan akal inilah manusia akan mencapai tingkat kejayaannya dan dengan akal pula manusia akan terpuruk dalam jurang kehancurannya. Tingkat kesempurnaan manusia bahkan dapat melebihi Malaikat yang hanya diciptakan dengan ketaatan kepada Allah. Berbeda dengan manusia yang diciptakan dengan akal yang dengannya manusia dapat diangakat oleh Allah derajatnya melebihi Malaikat. Manusia boleh memenangkan akal pikirannya hari ini, tetapi sekali ia lengah, bisa jadi ia akan khilaf dan terjerumus keesokan harinya.

Maka, sudah sepantasnyalah kita mulai membersihkan hati dan pikiran dari berbagai hal negatif, sehingga apa yang akan kita lakukan memberikan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Hati dan pikiran yang positif akan memberikan energi yang dahsyat bagi perjalanan hidup seseorang. Memberinya kekuatan dan semangat hidup yang berkualitas.

‘Innamal a’malu binniyaati, wa innama likullimriin ma nawa’, bahwa segala sesuatu bergantung pada niatnya, dan dengan niatan yang baik tentu akan menentukan hasil akhir dari suatu perbuatan. Niat yang baik akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang, sehingga energi dan kreativitas yang mungkin belum terpikirkan. Dengan slogan ‘khoirunnasi yanfa’u lighoirihi’ sesorang akan selalu berusaha untuk menetapkan niatannya dengan baik agar berpengaruh kepada lingkungan sekitarnya.

Hidup adalah cara pandang. Tentang bagaimana kita menyikapi terhadap segala peristiwa dan tantangan hidup. Dengan cara pandang, sesorang bisa melihat sebuah peristiwa dari berbagai sisi, baik itu positif ataupun negatif. Berbagai peristiwa di dunia ini, baik dalam pandangan positif maupun negetaif, mempunyai makna baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Mungkin suatu peristiwa akan merugikan dalam jangka pendek, tapi siapa sangka dalam jangka panjang ternyata ia mendatangkan kebaikan yang tak terduga. Selalu bersikap positif terhadap Allah yang telah merencanakan segala sesuatunya untuk kita meski terkadang kita menganggap peristiwa itu terkadang menyakitkan di awalnya.

Dengan cara pandang positif, tentun kita akan memahami bahwasanya manusia diciptakan di dunia ini dalam perbedaan. Semua orang di dunia ini mempunya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Dalam mahfudhot disebutkan ‘la takhtaqir man duunaka walikulli syai’in maziyyah’, janganlah kita menghina seseorang yang ada di bawah kita, karena segala sesuatu mempunyai kelebihan masing-masing.

Indahnya hidup akan dapat kita nikmati dengan melepaskan diri dari segala hal yang bersifat negatif dari diri kita. Berpikiran positif mungkin salah satu alternatif untuk memecahkan segala tantangan hidup yang kita alami. Dengan berpikiran positif sudah barang tentu segalanya terasa begitu mudah untuk dijalani tanpa adanya beban. Dengan berpikiran positif akan membuat kita mampu mengurai satu persatu tantangan hidup ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

 
2 Comments

Posted by on 9 August 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

Pubertas

Menjaga amanah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibalik setiap amanah menimbulkan tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan tidak hanya kepada Tuhan namun juga kepada sesama yang telah memberikan kepercayaan kepada kita. Melepaskan diri dari tanggung jawab tentu tidak akan melatih mentalitas kita untuk menjadi pria yang mampu mengemban amanah. Lebih jauh lagi berarti kita belum siap untuk menjaga ‘anak orang’ untuk hidup bersama.

Berlibur ke Bad Saarow bersama seluruh keluarga besar KBRI Berlin memberikan pengalaman yang berarti bagiku. Sedari awal aku sudah dipesan untuk menjadi penjaga bagi anak-anak satu geng yang masih dalam taraf pendewasaan diri. Jadi sudah barang tentu aku sudah sedikit membayangkan apa kira-kira yang bakal menjadi tatanganku ketika berada di Lokasi.

Dior, Ega, Ilham dan Ivan, 4 orang yang dalam daftar penginapan akan satu atap bersamaku. Sebenarnya tidak ada yang sulit untuk menjaga mereka berempat. Apalagi dengan adanya si Ilham yang sedari kecil sudah didik oleh orang tuanya dengan pendidikan militer, tentu saja aku cukup memberikan sedikit arahan sehingga komando langsung diambil alih olehnya.

Berenang di Danau depan bungalow merupakan kegiatan pertama yang dilakukan anak-anak itu begitu sampai di lokasi. Namun di awal diriku hanya mengawasi dari atas bersama sang ‘diver’ herr Jayadi yang juga mendapatkan tugas yang sama denganku untuk mengawasi permainan anak-anak seluruhnya. Mungkin tugas dan tanggung jawab dia lebih besar dari apa yang aku emban dalam urusan keselamatan anak-anak seluruhnya.

Seusia mereka adalah usia-usia pubertas tingkat tinggi. Usia untuk memulai menunjukkan jati dirinya kepada lawan jenisnya. Dan itu yang sedang mereka alami saat ini. Karena hal ini pulalah yang sedikit membuatku harus menyadari kondisi kejiwaan mereka. Tidur larut mengawasi mereka yang masih ramai-ramai berjalan-jalan bersama-sama dengan beberapa teman perempuan meski hanya disekitar lokasi bungalow.

Syukurku, untung ada si Jaya yang juga mendapatkan tugas yang sama, sehingga dengan sepeda sewaan €7 perhari aku bisa sedikit leluasa keliling bungalow sembari mata tetep tertuju pada sekelompok anak muda belia yang sedang beranjak dewasa.

Berlin, 21.58 08.08.2010

 
Leave a comment

Posted by on 8 August 2010 in Uncategorized

 

Bagian 2: Pendidikan Anak Dalam Islam

Sore ini rasanya sangat takjub ketika mengikuti pengajian di Masjid Al Falah, Berlin, ada suguhan menarik dari putra putri jamaah masjid. Pementasan drama yang cukup singkat namun sangat berarti bagi mereka tentang penyambutan bulan Ramadhan dan proses pelaksanaan puasa bagi mereka yang masih dalam tahap belajar.

Mungkin akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi para orang tua mereka yang mana anak-anaknya dapat tampil dalam adegan drama tersebut. Aku tidak tahu asti berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk beradegan seperti itu karena lancarnya mereka dalam melakukannya dan tanpa canggung meski di hadapan jamaah yang tidak mereka kenal seluruhnya.

Pendidikan anak menjadi hal penting bagi orang tua karena merupakan kewajibannya untuk menjaga amanah dari Allah. Anak merupakan aset berharga bagi kedua orang tua, maka dari itu orang tua harus menjaga aset yang ada dengan sebaik-baiknya agar nantinya setelah besar mereka dapat mendoakan orang tua maisng-masing yang merupakan amal jariyah bagi keduanya.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim). Hadis di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh.

Tentu kita selalu ingat dengan Lukman Al-Hakim, nama yang dijadikan salah satu nama Surat dalam Al Quran, Surat Luqman. Luqman Al-Hakim merupakan salah satu suri tauladan diantara para bapak yang sangat memperhatikan pendidikan anak. Baik pendidikan ruhiyah maupun jismiyah, mental maupun badan. Ia adalah orang tua yang sadar akan tugas yang diamanahkan kepadanya, yakni merawat dan memelihara serta mendidik anak-anaknya. Memberinya pelajaran, memberinya makan dari hasil yang halal, serta memberi pakaian dengan pakaian yang baik, pakaian ihsan dan taqwa.

Ada 5 pesan yang Luqman sampaikan kepada anaknya yang kesemuanya tertulis dalam Al Quran, yaitu:

  1. Tidak mempersekutukan Allah
    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “Hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman : 13).
  2. Berbuat baik kepada kedua orang tua
    “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”. (QS. Luqman : 14).Patuh kepada kedua orang tua merupakan keharusan, walaupun kedua orang tuanya berlainan agama, ia tetap dipatuhi perintahnya jika perintahnya tidak ma’siyat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mensekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada perngetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauililah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Luqman : 15).
  3. Menanamkan pada diri anak akan kasih sayang Allah
    “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”. (QS. Luqman : 16).
  4. Mengenalkan anak akan kewajiban dia kepada Robnya
    “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan besabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman : 17).
  5. Mengajarkan sopan santun dan rendah hati
    “Dan jangalah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (QS. Luqman : 18-19)Orang tua yang mengajar anaknya akan ilmu akhirat, maka anak itupun akan mendapatkan juga ilmu dunia, berbeda kalau cuman dididik dengan ilmu dunia saja, maka anak tidak akan mungkin mendapat ilmu akhirat. Dikatakan dalam pepatah : “Siapa mencari akhirat maka dunia akan dia dapat, tapi siapa yang hanya mencari dunia maka akhirat tak akan dia dapat”.Hati seorang anak sangatlah lembut, dan sudah sepantasnyalah diperlakukan dengan kelembutan. Jika sekali kau lukai hatinya sudah barang tentu luka dihati dan perasaannya tidaklah mungkin untuk dapat diobati layaknya luka lecet pada kulitnya. Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”.
 
Leave a comment

Posted by on 8 August 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,