RSS

Bagian 5: Menahan Lapar Duniawi

16 Aug

Sedari kecil kita sudah didik untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan oleh keluarga. Sebelum masa Baligh, puasa menjadi suatu kegiatan untuk melatih anak agar mengenal salah satu ajaran Islam, sehingga kelak ketika beranjak dewasa sudah dapat melaksanakannya dengan sempurna.

Masa itu -kecil- menjadi masa yang cukup sulit untuk dapat menahan diri dari tidak makan dan minum. Ketika melihat makanan sisa sahur di meja makan rasanya gatal tangan kita untuk beranjak mengambil dan memasukkannya ke dalam mulut. Segala makanan dan minuman disiang itu terasa nikmat oleh pandangan mata.

Meski berlatih dengan puasa bedug – hanya sampai waktu dhuhur- namun cukup menguji kesabaran seorang anak. Menunggu waktu bedug seperti sudah menunggu waktu berbuka puasa menjelang magrib. Segala sesuatu untuk berbuka di siang itu sudah dipersiapkan sedemikian rupa, seperti ingin melahap semua makanan yang sudah diincar sebelumnya.

Dan ketika waktu itu datang, apa yang kemudian dirasakannya? cukup dengan tegukan air dan beberapa santapan makanan sudah begitu mengenyangkan. Apa-apa yang sebelumnya sudah diimpi-impikan untuk dapat dilahap habis hanya tinggal harapan, karena perut ini sudah tidak berminat untuk menampung makanan-makanan lainnya.

Cukup dengan makan sebagian  saja  kita sudah telentang kekenyangan. Setelah sebelumnya lemas karena kelaparan, kita segera lemas oleh kekenyangan. Saat itu, diam-diam,  sebetulnya pelajaran malu mulai diperkenalkan. Setelah sebelumnya ganas  merengek  agar diperbolehkan makan, ternyata apa yang disebut makan itu hanya secepat itu, hanya sesingkat itu dan sesederhana itu.

Apakah esok harinya kita megambil pelajaran dari hari sebelumnya? ternyata tidak. Kita tetap saja merengek untuk bisa berbuka lebih awal meskipun hanya puasa bedug. Nafsu lapar dan haus kita seakan tetap menjadi.

Ketika beranjak dewasa, maka sudah barang tentu kita mampu menahan kelaparan dan kehausan di waktu puasa, meski terkadang dengan kepayahan yang sangat.  Itu semua dilakukan “la’allakum tattaqun”, agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Dan setelah menjadi kewajiban, maka kita tidak hanya harus mampu menahan nafsu perut saja, namun kita juga harus dapat menahan nafsu-nafsu buruk lainnya yang dapat mengurangi makna puasa itu sendiri.

Kelaparan boleh-boleh saja, apalagi kalau hanya urusan perut semata. Yang patut diperhatikan tentunya kelaparan-kelaparan lainnya yang dapat menjadikan kita menjadi manusia yang tidak pernah puas dengan sesuatu yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Lapar kekayaan, lapar kekuasaan, lapar perhatian dan lapar-lapar lainnya perlu sedikit demi sedikit kita minimalisir sehingga akan terhapuskan seiring dengan didaptnya hikmah dari puasa Ramadhan yang sedang kita jalani saat ini.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

 
Leave a comment

Posted by on 16 August 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: