RSS

Bagian 7: Harga Sebuah Kedisiplinan

18 Aug

Salam tanda selesai sholat Ashar baru saja terucap dari sang imam sholat sore itu. Sejenak para jamaah tertegun dalam kekhusyuan berdoa. Hening dan sepi. Hanya suara tiupan angin yang terdengar masuk dari pintu-pintu masjid putih megah dipojokan asrama.

Brug..brug….. tiba-tiba tanpa komando terdengar suara langkah-langakah cepat setengah berlarian. Para jamaah dengan tergesa-gesa meninggalkan masjid tanpa pamitan. Akupun bergabung dalam rombongan itu. Waktu sempat berhenti ketika harus mencari sandal yang sebelumnya tertata rapi lalu telah morat-marit karena semua berebut untuk dapat segera meninggalkan masjid pulang menuju ke asrama masing-masing.

Sudah menjadi jadwal bagi kami setiap hari Sabtu sore jam 16.00 melaksanakan kegiatan pramuka. Kegiatan yang sangat menanamkan kedisiplinan yang super ketat. Tidak ada toleransi bagi yang terlambat.

Asrama menjadi gemuruh oleh anak-anak yang berusaha untuk mengambil perlengkapan pramukanya dan segera meninggalkan asrama sebelum didaur oleh kakak pembina pramuka. Bahkan banyak diantaranya yang menjinjing sepatu dan berlari tanpa alas kaki untuk dapat segera melewati batas garis dimana menjadi patokan sebagai tempat diberikannya hukuman bagi anggota yang terlambat.

Meski seperti dikejar harimau, namun aku berusaha terlihat santai. Tidak ingin seperti anak-anaka kebanyakan yang berlarian kalah perang. Kupakai sepatu dari depan koridor asrama. Begitu hendak berdiri sepertinya ada ynag masih terlupa. Ya, tongkat pramukaku masih tertinggal di dalam kamar, dna artinya aku harus melepas kembali sepatuku dan masuk ke kamar untuk mengambil tongkat tersebut.

Terdengar begitu keras teriakan kakak pembina dari pojokan gelora. Lima…empat…tiga…dua…SATU. Semua yang masih berada dalam garis batas hukuman segera dibariskan. Aku berdiri diantara mereka dalam shaft yang rapi. Kakak pembina pun berceramah tentang kedisiplinan yang harus dijunjung tinggi seseorang. Mengecek perlengkapan masing-masing personil apakah sesuai dengan persyaratan untuk mengikuti acara pramuka sore itu.

Lalu dengan teriakan yang melenking “Irfa’ rijlakum” (Angkat kakimu), kamipun mengangkat salah satu kaki kami, memberikan paha kami yang hanya terbalut kain celana coklat panjang untuk diberi hukuman yang sesuai dengan kesalahan kami dalam hal kedisiplinan.

Dan bug..bug..bug.. suara stick drum mengenai paha mulai terdengar sayup-sayup mulai mendekatiku. Sudah ada beberapa rekanku yang tersungkur menahan sakitnya pukulan itu. Dan melihat itu semua hati seperti berhenti. BUG…. accccccccch… suaraku tertahan di tenggorokan menahan sakit yang teramat. Sepertinya akupun tak sanggup untuk menahan sakit ini sembari berdiri, tapi aku berusaha untuk tetap kuat dan memegangi paha yang sakit dengan rintihan pelan.

Kami para terhukum segera berlarian ke arah lapangan untuk upacara pembukaan latihan pramuka sore itu. Rasa dongkol masih tersisa akibat hukuman yang bagi kami sangat menakutkan. Tapi itulah kedisiplinan, harus ditanamkan untuk bekal dikehidupan nyata.

Sembari terseok-seok berjalan ke arah lapangan, mata selalu menatap kata-kata mutiara yang banyak dipasang dibeberapa tembok-tembok bangunan Pondok ini dalam bahasa Arab dan Inggris. “To wait two hours better than to be waited two minutes“. Itu kalimat yang tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh jaman. Selalu terngiang dalam benakku.

 
Leave a comment

Posted by on 18 August 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: