RSS

Bagian 8: Senandung Takbir dari Kota Hitler

11 Sep

Rintik hujan mulai turun dengan diiringi sedikit hembusan angin membuat suasana pagi ini menjadi sedikit dingin. 15 derajat celsius. Suhu udara yang kurang normal untuk ukuran awal September ini. Musim gugur sepertinya datang lebih awal di tahun ini.

Tidak terdengar suara takbir seperti yang biasa kudengar ketika aku merayakan lebaran di kampung. Padahal hari ini adalah 1 Syawal 1413 H. Gema takbir bersahut-sahutan menandakan kebesaran Ilahi keluar dari corong-corong speaker surau-surau dan masjid yang berada tak jauh dari rumahku berada di kampung nan jauh di sana, Weleri.

Udara dingin pagi ini sepertinya membekukan suara-suara takbir yang seharusnya sampai di telingaku. Suara-suara berhenti,beku di udara. Berlin yang merupakan Ibu Kota Negara Jerman tidak memberikan ruang yang bebas untuk menerbangkan suara-suara takbir yang biasa bergema di hari lebaran.

Rintik hujan masih terus turun. Meski hanya rintih tapi membuat membuat suasana menjadi sedikit gelap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.50, tapi kami masih belum bergerak untuk segera berangkat, padahal sholat Ied akan dilaksanakan pukul 08.30. Cukup jauh emang jarak yang harus kutempuh untuk bisa sampai di KBRI Berlin tempat dilaksanakannya Sholat Iedul Fitri kali ini. Dan tepat pukul 08.00 kami mulai bergerak.

Jalanan basah. Dari kejauhan terlihat lampu-lampu merah menyala, artinya mobil-mobil di depan melaju pelan atau bahkan sedang berhenti karena rush hour. Wajar memang di jam-jam seperti ini terjadi sedikit kemacetan, ditambah lagi cuaca yang sedikit kurang mendukung untuk berkendara dengan cepat.

Mengingat waktu yang semakin terbatas, maka tanpa ba bi bu, kutancap gas Mercedez S500 dengan mantab meski nantinya di depan aku harus meminta jalan kepada mobil lain yang sudah terlebih dulu dijalur yang benar. Berdasarkan pengalaman tidak susah untuk sedikit meminta kelapangan pengendara lain memberikan jalan di kota yang serba taat aturan ini.

zig zag namun tetap sesuai aturan. Sport Jantung mengiringi perjalanan pagi ini.

Aku tidak ingin pengalaman tahun lalu terulang kembali. Karena penuhnya jamaah, aku  harus rela sholat di emperan kantor. aku ingin sholat di dalam ruangan, apalagi sekarang sedang gerimis. Dan tentunya aku tidak mau tidak ikut berjamaah di hari lebaran ini. meski hanya sholat sunah tapi bagiku sholat Idul Fitri merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan begitu saja karena alasan keterlambatanku.

Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 08.17 dan aku masih berada di daerah Urania, persimpangan jalan ke arah Ku’Dam, boulevardnya Kota Berlin yang berisi toko-toko dan cafe-cafe sebagai city walknya kota. Tempat tujuan utama turis yang berkunjung ke Berlin selain Check Point Charlie tentunya.

Padahal dalam keadaan tidak macet, dari Urania menuju KBRI Berlin waktu tempuhnya sekutar 7-10 menit, tapi sekarang dengan kondisi hujan dan rush hour, mampukah aku tepat waktu sampai di tujuan???

Ah, sepertinya fokusku pada setir kemudi lebih peting ketimbang memikirkan sisa waktu yang harus kujalani demi memenuhi target sampai tepat pada waktunya.

zig zag namun tetap taat aturan.

Dan, syukurlah, tepat sampai di kampung Melayu, sebutan untuk komplek apartemen yang banyak di huni para pegawai KBRI Berlin jam di dashboard sudah menunjukkan 08.28, dan kali ini aku harus sedikit melanggar aturan kecepatan yang seharusnya ketika melewati komplek perumahanan maksimal 30-40 km, namun kali ini kugeber pada spedometer 50 km.

Tepat sekali pukul 08.30 kubelokkan mobil menuju parkiran KBRI Berlin. Segera kuparkir m0obil dan tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju aula lantai 1 tempat di laksanakannya Sholat Idul Fitri tiap tahunnya di Berlin.

Lega rasanya. Meski ternyata waktu sholat yang sedianya pukul 08.30 diundur menjadi 08.45 mengingat kondisi hujan jadi menunggu beberapa jamaah lainnya yang mungkin masih ngos-ngosan di jalan melawan waktu seperti yang baru saja kualami.

Gema takbir di ruangan aula ini begitu syahdu terdengar di telingaku, seakan menjadi pengobat kekhawatiranku akan tertinggal berjamaah pagi ini.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu wallahu Akbar… Allahu AKbar Walillahilkham”

*Tahun keduaku melewatkan Idul Fitri di Berlin jauh dari sanak family

 
1 Comment

Posted by on 11 September 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

One response to “Bagian 8: Senandung Takbir dari Kota Hitler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: