RSS

Monthly Archives: November 2010

Teropong Kehidupan

Sewaktu kanak-kanak saya seringkali memperhatikan rekan-rekan senior di kampung ketika hendak beranjak jam 7 pagi ramai lewat di depan rumahku anak-anak dengan seragam merah dan putih, seragam khas sekolah induk. Kebetulan rumahku hanya berjarak 2 rumah dari SD tempat dimana nantinya aku juga menuntut ilmu dasar.

Sepertinya ada ketakjuban tersendiri dalam diriku melihat mereka, para senior, belajar menulis dan berhitung. Pada usia yang masih belia, tentu diriku membatin bahwa pelajaran yang mereka terima pasti sangatlah sulit untuk dapat kumengerti nantinya, pantas saja aku ta’dzim dengan para siswa itu.

Akhirnya waktu untukku pun tiba guna merasakan sensasi belajar menulis dan berhitung. Tentu saja dengan sedikit ilmu yang kudapat dari Ibu di rumah, yang kebetulan juga seorang guru agama SD, aku sudah lebih unggul dari rekan-rekan seumuranku di kelas itu.

Dengan mudah aku melewati ujian yang diadakan tiap catur wulannya, dan memasuki jenjang-jenjang selanjutnya, pikirankupun selalu dihinggapi ketakutan akan beban yang akan kuhadapi ditingkat atas. Namun dugaanku keliru, semua sudah disusun sedemikian rupa sesuai kurikulum sehingga kami dapat mengikutinya setiap mata pelajaran dengan mudah.

Tak berbeda dengan proses pembelajaran dalam jenjang sekolah, kehidupan juga memberikan sensasi yang cukup menggairahkan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi 1 detik selanjutnya dari kehidupan kita. Kita hanyalah menjalani apa yang ada di depan mata, meski terkadang kita merencanakan sesuatu hingga matang untuk masa yang akan datang, namun terkadang hal itupun luput dari  harapan, meski ada juga yang selaras dengan rencana yang ada.

Ketakutan yang ada hanyalah bias semata. Karena kita terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi sehingga menjadikan kita terbebani dengan hal yang belum tentu terjadi.  Menjalani kehidupan, merasakan sensasi alam. Menerima segala resiko yang ada dengan khidmat menjadikan kita bisa memahami makna dari kehidupan itu sendiri.

Menentang rencana-rencana yang gagal, dan memaksakannya boleh jadi malah akan berakibat buruk bagi perjalanan hidup kita kedepannya. Semua tentu sudah diatur sedemikian rupa oleh sang Kuasa.  Manusia bolehlah berencana, namun janganlah pernah menyesali akan kegagalan dari rencana-rencana kita karena dibalik kegagalan tersebut tentu ada sesuatu yang tersembunyi yang akan terkuak pada saatnya.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on 8 November 2010 in Uncategorized

 

Parodi Bencana

Jengkel, mangkel dan marah adalah hak asasi manusia. Namun hak asasi inipun tentu harus diterapkan pada kondisi tertentu juga untuk menghindari pencaplokan hak asasi orang lain. Bagaimana mungkin kita mengeembor-gemborkan hak asasi pribadi kalau hak asasi orang lain untuk menikmati ketenangan terganggu oleh kemarahan dan amukan kita?. tentu kita tidak menginginkan hal ini terjadi.

Bencana yang datang silih berganti dari banjir bandang di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai serta muntahnya sang merapi di Jogja menyisakan kesedihan dan juga kemarahan bagi sebagain yang mengalaminya.

Sedih harus ditinggal orang yang kita sayangi, sedih kehilangan harta benda, harus mengungsi dari rumah sendiri, dan tidur serta makan dengan tetangga atau bahkan orang yang tidak kita kenal di lokasi pengungsian. Belum lagi terkadang harus berebut makanan dengan pengungsi lain. Ah sungguh rasa yang sulit untuk diterjemahkan oleh orang seperti saya yang tidak mengalaminya secara langsung.

Berteriak sekencang-kencangnya. Memaki-maki orang lain yang ternyata menyerobot antrian makanan mungkin lumrah bagi mereka yang sedari tadi sudah berdiri di bawah terik matahari menahan sakitnya perut dan kurang tidur karena tidak ada selimut yang mencukupi untuk dibagi.

Bagi saya wajar ada orang meneriaki orang lain jika orang lain tersebut tak tahu aturan. Karena terkadang aturan memang harus dipaksakan sedemikian rupa, bahkan diperlukan juga hukuman.

Dalam kondisi sedih dan kalut, para pengungsi tentu tidak akan pernah memikirkan siapa yang bertanggung jawab terhadap situasi di lapangan. Yang mereka pikirkan bagaimana keluarga mereka bisa selamat dari bencana yang sedang terjadi di daerahnya.

Mereka tidak pernah tahu bahwa Gubernur yang bertanggung jawab terhadap daerahnya pergi ke Negeri yang cukup jauh di Eropa sana, Jerman. Mereka tidak peduli yang penting mereka bisa makan dan minum untuk saat ini bagi kehidupan mereka ke depan.

Ntah apa yang ada dalam benak seorang Gubernur yang meninggalkan daerahnya dalam keadaan luluk lantah oleh tsunami dengan 400 lebih korban meninggal. Seorang pemimpin yang berusaha mempromosikan daerahnya ke dunia luar namun tidak sadar akan pentingnya simpati bagi rakyatnya.

Tidakkah ia sadar apa yang akan dia rasakan seandainya hal itu menimpa keluarganya?? Iwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat menjadikan Undangan Duta Besar RI di Jerman sebagai alasan untuk meninggalkan daerahnya. Undangan bukanlah titah Raja yang harus dilaksanakan atau jika tidak ia akan di hukum pancung?

Partai yang mngusungnya, PKS dengan bangganya menjelaskan alasan-alasan kepergian sang Gubernur dengan menyebarkan statemen yang hampir sama di semua media massa. Partai yang awalnya berdiri berpayung agamis telah melumeri wajahnya dengan kotorannya sendiri. Bahkan konstituennya dipermalukan karena ulah segelintir kadernya yang meski sudah nyata salah tetap dibela habis-habisan.

Namun Indonesia akan melihat bahwa bahwa bagaimanapun pakaian yang menutupinya, bagaimanapun tutur katanya, tentu lambat laun jika tidak didasari dengan ketulusan dan keihklasan akan terbongkarlah kedoknya.

 
Leave a comment

Posted by on 6 November 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,