RSS

Parodi Bencana

06 Nov

Jengkel, mangkel dan marah adalah hak asasi manusia. Namun hak asasi inipun tentu harus diterapkan pada kondisi tertentu juga untuk menghindari pencaplokan hak asasi orang lain. Bagaimana mungkin kita mengeembor-gemborkan hak asasi pribadi kalau hak asasi orang lain untuk menikmati ketenangan terganggu oleh kemarahan dan amukan kita?. tentu kita tidak menginginkan hal ini terjadi.

Bencana yang datang silih berganti dari banjir bandang di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai serta muntahnya sang merapi di Jogja menyisakan kesedihan dan juga kemarahan bagi sebagain yang mengalaminya.

Sedih harus ditinggal orang yang kita sayangi, sedih kehilangan harta benda, harus mengungsi dari rumah sendiri, dan tidur serta makan dengan tetangga atau bahkan orang yang tidak kita kenal di lokasi pengungsian. Belum lagi terkadang harus berebut makanan dengan pengungsi lain. Ah sungguh rasa yang sulit untuk diterjemahkan oleh orang seperti saya yang tidak mengalaminya secara langsung.

Berteriak sekencang-kencangnya. Memaki-maki orang lain yang ternyata menyerobot antrian makanan mungkin lumrah bagi mereka yang sedari tadi sudah berdiri di bawah terik matahari menahan sakitnya perut dan kurang tidur karena tidak ada selimut yang mencukupi untuk dibagi.

Bagi saya wajar ada orang meneriaki orang lain jika orang lain tersebut tak tahu aturan. Karena terkadang aturan memang harus dipaksakan sedemikian rupa, bahkan diperlukan juga hukuman.

Dalam kondisi sedih dan kalut, para pengungsi tentu tidak akan pernah memikirkan siapa yang bertanggung jawab terhadap situasi di lapangan. Yang mereka pikirkan bagaimana keluarga mereka bisa selamat dari bencana yang sedang terjadi di daerahnya.

Mereka tidak pernah tahu bahwa Gubernur yang bertanggung jawab terhadap daerahnya pergi ke Negeri yang cukup jauh di Eropa sana, Jerman. Mereka tidak peduli yang penting mereka bisa makan dan minum untuk saat ini bagi kehidupan mereka ke depan.

Ntah apa yang ada dalam benak seorang Gubernur yang meninggalkan daerahnya dalam keadaan luluk lantah oleh tsunami dengan 400 lebih korban meninggal. Seorang pemimpin yang berusaha mempromosikan daerahnya ke dunia luar namun tidak sadar akan pentingnya simpati bagi rakyatnya.

Tidakkah ia sadar apa yang akan dia rasakan seandainya hal itu menimpa keluarganya?? Iwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat menjadikan Undangan Duta Besar RI di Jerman sebagai alasan untuk meninggalkan daerahnya. Undangan bukanlah titah Raja yang harus dilaksanakan atau jika tidak ia akan di hukum pancung?

Partai yang mngusungnya, PKS dengan bangganya menjelaskan alasan-alasan kepergian sang Gubernur dengan menyebarkan statemen yang hampir sama di semua media massa. Partai yang awalnya berdiri berpayung agamis telah melumeri wajahnya dengan kotorannya sendiri. Bahkan konstituennya dipermalukan karena ulah segelintir kadernya yang meski sudah nyata salah tetap dibela habis-habisan.

Namun Indonesia akan melihat bahwa bahwa bagaimanapun pakaian yang menutupinya, bagaimanapun tutur katanya, tentu lambat laun jika tidak didasari dengan ketulusan dan keihklasan akan terbongkarlah kedoknya.

 
Leave a comment

Posted by on 6 November 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: